Author: Admin Bimas

  • Penyuluh Agama Kampanyekan Program MAHAR kepada Jamaah Majelis Taklim Saif Hasan

    Penyuluh Agama Kampanyekan Program MAHAR kepada Jamaah Majelis Taklim Saif Hasan

    Kontributor : Nur Hasan / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    PAJARAKAN, (04/08/2026) – Penyuluh Agama Islam menggelar sosialisasi sekaligus kampanye Program MAHAR (Mari Hindari Gratifikasi) kepada jamaah Majelis Taklim Saif Hasan di Dusun Curah Lele RT 4 RW 2, Desa Gerongan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di majelis taklim binaan tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya gratifikasi serta memperkuat budaya integritas sebagai bagian dari dukungan terhadap program Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo dalam mewujudkan pelayanan publik yang bersih dan bebas dari praktik korupsi.

    Dalam kegiatan tersebut, jamaah memperoleh pemahaman mengenai pengertian gratifikasi, bentuk-bentuk gratifikasi yang perlu dihindari, dampak negatif yang ditimbulkan, hingga pentingnya menolak setiap pemberian yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas maupun pelayanan publik. Sosialisasi juga menekankan peran aktif masyarakat dalam membangun budaya antikorupsi melalui sikap jujur, transparan, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi nilai integritas.

    Penyuluh Agama Islam Nur Kholili, yang saat ini bertugas di KUA Pajarakan, dalam penyampaiannya kepada jamaah binaan menegaskan bahwa pencegahan gratifikasi tidak hanya menjadi tanggung jawab aparatur pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat.

    “Program MAHAR merupakan ikhtiar bersama untuk membangun kesadaran bahwa gratifikasi dapat merusak integritas pelayanan publik. Masyarakat memiliki peran penting dengan tidak memberikan sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan serta berani menolak praktik-praktik yang berpotensi melanggar aturan. Budaya jujur harus dimulai dari lingkungan terkecil agar kepercayaan publik terhadap Kementerian Agama semakin kuat,” ujarnya.

    Ketua Majelis Taklim Saif Hasan, Musrifah, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan wawasan baru bagi jamaah mengenai pentingnya menjaga integritas dalam kehidupan bermasyarakat

    “Kami bersyukur majelis taklim mendapat pembinaan mengenai Program MAHAR. Pengetahuan ini sangat bermanfaat agar jamaah memahami bahwa menolak gratifikasi merupakan bagian dari ajaran kejujuran dan amanah. Kami siap mendukung serta menyampaikan pesan ini kepada keluarga maupun masyarakat di sekitar kami,” katanya.

    Melalui semangat “Tolak Gratifikasi”, Penyuluh Agama Islam mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mendukung terwujudnya pelayanan publik yang profesional, transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi. Program MAHAR (Mari Hindari Gratifikasi) diharapkan mampu menumbuhkan budaya integritas yang berkelanjutan sehingga pelayanan di lingkungan Kementerian Agama semakin bersih, terpercaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

  • Bangun Generasi Qur’ani, Penyuluh Agama KUA Tegalsiwalan Intensifkan Pembinaan Al-Qur’an

    Bangun Generasi Qur’ani, Penyuluh Agama KUA Tegalsiwalan Intensifkan Pembinaan Al-Qur’an

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    Probolinggo, (04/08/2026) – Upaya memperkuat kesalehan umat sekaligus memberantas buta aksara Al-Qur’an terus dilakukan Kementerian Agama melalui para penyuluh agama. Salah satunya dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Tegalsiwalan dalam kegiatan pembinaan keagamaan di TPQ Darussalam, Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

    Kegiatan pembinaan tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an sejak usia dini sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi Qur’ani yang berakhlak mulia. Pada kesempatan yang sama juga digelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas capaian salah seorang santri, Moh. Abdillah Justin Gilbert, yang berhasil menuntaskan hafalan dan bacaan 30 juz Al-Qur’an pada usia 7 tahun.

    Penyuluh Agama Islam KUA Tegalsiwalan, Khomisun, mengatakan bahwa pembinaan tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang religius melalui pendidikan Al-Qur’an.

    “Pembinaan ini kami laksanakan dalam rangka meningkatkan kesalehan umat sekaligus mendukung pemberantasan buta aksara Al-Qur’an sejak dini. Kami berharap anak-anak semakin mencintai Al-Qur’an, mampu membacanya dengan baik, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

    Menurutnya, keberhasilan seorang santri menyelesaikan bacaan 30 juz pada usia yang masih sangat muda menjadi motivasi bagi santri lainnya untuk semakin bersemangat belajar Al-Qur’an. Capaian tersebut juga menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten dengan dukungan orang tua dan para guru mampu melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.

    Secara terpisah, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, H. Imammuddin Nur Fajri,S.Ag.,M.HI, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pembinaan keagamaan yang dilakukan para penyuluh agama merupakan bagian yang selaras dengan program pemberdayaan umat yang menjadi prioritas Kementerian Agama.

    “Kegiatan seperti ini sangat kami apresiasi karena sejalan dengan program Kementerian Agama dalam pemberdayaan umat. Penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an sejak dini merupakan investasi penting untuk membentuk masyarakat yang religius, berkarakter, dan memiliki fondasi keagamaan yang kuat,” ungkapnya.

    Melalui pembinaan yang berkesinambungan, Kementerian Agama berharap gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an semakin meluas, sehingga lahir generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

  • Silaturahmi Penyuluh Agama di MTs Darussalam, Teguhkan Komitmen Kemenag Berdampak dan Tolak Gratifikasi

    Silaturahmi Penyuluh Agama di MTs Darussalam, Teguhkan Komitmen Kemenag Berdampak dan Tolak Gratifikasi

    Tegalsiwalan, 4 Agustus 2026 – Penyuluh Agama Islam Homisun melaksanakan kegiatan silaturahmi dan sosialisasi bersama Kepala Madrasah serta dewan guru MTs dan MA Darussalam di Ruang MTs Darussalam, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Kemenag Berdampak, Menolak Tegas Gratifikasi” sebagai upaya memperkuat sinergi antara Kementerian Agama dengan lembaga pendidikan dalam membangun budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

    Dalam kegiatan tersebut, Homisun menyampaikan bahwa semangat Kemenag Berdampak harus diwujudkan melalui pelayanan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain itu, seluruh insan pendidikan di lingkungan madrasah juga diajak untuk menolak segala bentuk gratifikasi sebagai bagian dari komitmen menjaga integritas dan mewujudkan tata kelola yang bersih.

    Silaturahmi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Penyuluh Agama Islam dengan keluarga besar MTs dan MA Darussalam. Melalui dialog yang hangat, berbagai informasi terkait program Kementerian Agama dapat disampaikan secara langsung sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan dalam meningkatkan kualitas pembinaan keagamaan di lingkungan madrasah.

    Menurut Homisun, silaturahmi dan sosialisasi seperti ini sangat penting dilakukan karena mampu memperkuat komunikasi, membangun kerja sama, serta menyamakan persepsi dalam mendukung berbagai program Kementerian Agama. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan seluruh elemen madrasah dapat bersama-sama mewujudkan lingkungan pendidikan yang berintegritas, bebas gratifikasi, dan memberikan dampak positif bagi peserta didik maupun masyarakat.

  • Merajut Kerukunan di ‘Negeri Atas Awan’: Kehangatan Silaturahmi Guru PAI dan Warga Tengger Saat Hari Raya Karo

    Merajut Kerukunan di ‘Negeri Atas Awan’: Kehangatan Silaturahmi Guru PAI dan Warga Tengger Saat Hari Raya Karo

    Kontributor : Lutfi Hidayat / Editor : Moh. Hefni M – Tim Bimas Islam

    SUMBER, (04 Agustus 2026) – Udara dingin khas lereng Gunung Bromo yang menyelimuti Kecamatan Sumber tak mampu mengikis kehangatan persaudaraan yang terpancar di Selasa pagi (04/08/2026).

    Di tengah kemeriahan masyarakat adat Tengger yang tengah merayakan Hari Raya Karo, para insan pendidikan Guru PAI di Kecamatan Sumber berkumpul melangkah bersama dalam sebuah agenda istimewa, mempererat tali silaturahmi antarumat beragama sekaligus memperkokoh profesionalisme pendidik.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang Pembinaan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dan guru kelas, tetapi juga panggung nyata indahnya toleransi di daerah berlatar belakang budaya yang kaya.

    Hadir memimpin rombongan, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kemenag Kabupaten Probolinggo, Moch. Sugianto, S.Kom., M.M, Koordinator Wilayah (Korwil) Bidikdaya Kecamatan Sumber, Asis, M.Pd didampingi Pengawas Sekolah, Sugianto, M.Pd serta Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Bambang Hermanto, S.Pd bersama puluhan guru PAI dan guru kelas, mereka menyatukan langkah untuk merawat harmoni di wilayah pendidikan lereng Tengger.

    Membuka Hari dengan Pembinaan dan Niat Suci

    Pagi sekitar pukul 08.00 WIB, halaman Kantor Korwil Bidikdaya Kecamatan Sumber mulai dipadati para pendidik. Sebelum memulai safari silaturahmi, jajaran pimpinan memberikan arahan dan pembinaan singkat kepada para GPAI dan guru kelas.

    Dalam pembinaannya, Kasi PAIS Kemenag Kabupaten Probolinggo, Moch. Sugianto, S.Kom., M.M, menekankan pentingnya peran guru sebagai teladan toleransi dan perekat sosial di masyarakat.

    “Guru tidak hanya bertugas menyalurkan ilmu di dalam ruang kelas, tetapi juga hadir menjaga nilai-nilai luhur kebersamaan di tengah keberagaman tradisi lokal,” ujarnya.

    Safari Kehangatan: Menelusuri Pandansari, Ledokombo hingga Argosari

    Usai pembekalan, rombongan bertolak dari Kantor Korwil untuk memulai anjangsana atau kunjungan silaturahmi Karo. Rute perjalanan menyusuri jalanan berbukit yang hijau dan asri, mengunjungi kediaman para guru serta tokoh-tokoh masyarakat Tengger yang merayakan Karo.

    Singgah di Desa Pandansari

    Kunjungan pertama membawa rombongan menuju Desa Pandansari. Senyum hangat menyambut rombongan saat tiba di kediaman Ibu Gina dan Ratna. Di tempat ini, cengkerama penuh kekeluargaan tercipta, diiringi hidangan khas syukuran Hari Raya Karo yang disajikan penuh keikhlasan.

    Melintas ke Desa Ledokombo

    Perjalanan berlanjut menembus kabut tipis menuju Desa Ledokombo. Rombongan singgah di kediaman Ibu Imas dan Bapak Wandi. Tawa dan diskusi hangat menyelimuti ruang tamu, mencerminkan betapa eratnya jalinan persaudaraan antara pengawas, kepala sekolah, dan para guru tanpa memandang perbedaan latar belakang.

    Puncak Silaturahmi di Negeri Atas Awan, Desa Argosari

    Tujuan teratas dari safari ini adalah Desa Argosari, salah satu desa tertinggi di kawasan lereng Tengger. Di desa ini, rombongan mengunjungi empat kediaman secara berurutan: Bapak Wido, Ibu Lilik, Ibu Yanti dan Bapak Ngatari.

    Di tengah hembusan angin pegunungan, kunjungan ke rumah para tokoh dan guru di Argosari menjadi penutup safari yang berkesan. Sikap saling menghormati dan open house masyarakat Tengger menyajikan potret indah bagaimana tradisi lokal dapat berpadu harmonis dengan semangat kebangsaan dan pendidikan.

    Menjaga Marwah Toleransi di Dunia Pendidikan

    Hari Raya Karo bagi masyarakat adat Tengger adalah momentum penyucian diri, penghormatan kepada leluhur, serta perayaan keharmonisan. Kehadiran jajaran Korwil, pengawas, MKKS, dan GPAI dan para Penyuluh Agama Islam di Kecamatan Sumber dalam perayaan ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan di Kecamatan Sumber berdiri di atas fondasi inklusivitas yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan sekat dan status.

    Melalui kegiatan safari Hari Raya Karo Suku Tengger ini, para pendidik di Kecamatan Sumber tidak hanya menjalankan tugas administratif pembinaan, tetapi juga merawat benteng pertahanan toleransi terbaik atas nama silaturahmi yang tulus dari hati ke hati.

  • Semarak HUT RI ke-81, DWP UP KUA Wonomerto Perkuat Kebersamaan Lewat Lomba Tradisional

    Semarak HUT RI ke-81, DWP UP KUA Wonomerto Perkuat Kebersamaan Lewat Lomba Tradisional

    Kontributor : Muh. Munir / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    Wonomerto, (04/08/2026) – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unit Pelaksana (UP) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wonomerto menggelar lomba semarak kemerdekaan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, di halaman KUA Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Selasa (04/08/2026).

    Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus dan anggota DWP UP KUA Wonomerto tersebut berlangsung meriah dan penuh keakraban. Berbagai perlombaan tradisional digelar, di antaranya lomba menggiring kelapa, makan kerupuk menggunakan pancing, dan estafet gelas. Suasana penuh canda dan semangat kebersamaan mewarnai jalannya perlombaan, sekaligus menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antaranggota.

    Panitia lomba, Reny Nurmazidah, S.Kom, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan, tetapi juga membangun kekompakan dan solidaritas di lingkungan DWP.

    “Melalui lomba-lomba sederhana ini kami ingin menghadirkan kebahagiaan sekaligus mempererat rasa kebersamaan antaranggota. Semangat kemerdekaan harus terus diwujudkan dalam kerja sama, kekompakan, dan saling mendukung, baik di lingkungan organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua DWP UP KUA Wonomerto, Hj. Siti Farida, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa peringatan HUT RI merupakan momentum untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus memperkuat nilai persatuan.

    “Kemerdekaan adalah hasil perjuangan yang harus terus diisi dengan karya dan kebersamaan. Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh pengurus dan anggota DWP semakin solid, kompak, serta mampu memberikan dukungan positif terhadap tugas dan pelayanan KUA kepada masyarakat,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan semarak kemerdekaan ini, DWP UP KUA Wonomerto berharap semangat “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” tidak hanya menjadi tema peringatan HUT RI ke-81, tetapi juga menjadi inspirasi untuk terus memperkuat persatuan, kebersamaan, dan pengabdian dalam mendukung pembangunan bangsa.

  • Tradisi Nyadran dan Hari Raya Karo; Wujud Nyata Moderasi Beragama “Tengger in Harmony”

    Tradisi Nyadran dan Hari Raya Karo; Wujud Nyata Moderasi Beragama “Tengger in Harmony”

    Foto Kegiatan Upacara HAB Kemenag ke- 80 tanggal 3 Januari 2026

    SUKAPURA, (3 Agustus 2026) — Perayaan Hari Raya Karo Tahun 1948 Saka oleh masyarakat adat Suku Tengger di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kembali menjadi bukti nyata indahnya toleransi dan moderasi beragama di lereng Gunung Bromo. Melalui ritual adat Nyadran, warga membuktikan bahwa nilai tradisi dan semangat kebersamaan mampu melintasi batas-batas latar belakang agama.

    Meskipun ritual Nyadran dipimpin oleh dukun adat Suku Tengger dan sarat dengan nilai spiritual Hindu Tengger, pelaksanaannya senantiasa melibatkan seluruh elemen masyarakat secara inklusif. Tradisi ziarah ke makam leluhur desa—seperti di Makam Jenggiri dan Makam Nglegong—menjadi ruang perjumpaan sosial di mana keharmonisan antarumat beragama terjalin dengan alami.

    Kepala Desa Ngadisari, Anang Budiono menyampaikan bahwa Nyadran merupakan tradisi turun temurun yang menunjukkan masyarakat tengger menghormati jasa para pendahulu dan para leluhur. “Melalui Nyadran, kami mengingat bahwa keberadaan kita saat ini tidak lepas dari jasa para leluhur. Prosesi dilakukan dengan berjalan bersama menuju makam desa sambil diiringi gamelan Ketipung khas Tengger. Warga membawa berbagai sesaji khas Karo serta bunga sebagai persembahan yang kemudian didoakan oleh dukun adat Suku Tengger,” ujar Anang, Senin (3/8/2026).

    Suasana guyub tampak jelas ketika warga berkumpul mengenakan pakaian adat khas Tengger, berjalan beriringan tanpa memandang perbedaan keagamaan demi menghormati sejarah dan leluhur bersama. Alunan musikal gamelan Ketipung turut mengiringi langkah rombongan, menegaskan komitmen warga untuk merawat identitas budaya lokal.

    Sikap saling menghargai yang ditunjukkan masyarakat Sukapura selama rangkaian Hari Raya Karo—mulai dari prosesi Takaning Pitu, Tumpeng Gede, Nyadran, hingga hiburan Tayub—menjadi teladan praktik moderasi beragama yang hidup dan lestari di tengah dinamika zaman.

    Melalui warisan nilai dari sosok pemula adat Joko Seger dan Roro Anteng, masyarakat Tengger di kawasan Bromo terus menunjukkan kepada publik bahwa keberagaman dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tradisi, menjaga kedamaian, serta mempererat tali persaudaraan sesama warga bangsa.

    Sementara itu, Kepala KUA Sukapura, Arif Rahman Hakim, menegaskan bahwa hari raya Karo yang dikenal di Bromo Tengger bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan fondasi pemersatu ikatan sosial warga yang hidup berdampingan secara damai. “Meski berbeda agama dan keyakinan, selama ini selalu rukun-rukun saja dan aman sejahtera”. Karenanya pada saat momentum Hari Amal Bhakti Kementerian agama Kabupaten Probolinggo Januari lalu, Puncak Upacara yang dipimpin langsung oleh Bupati Probolinggo mengambil tema Tengger in Harmony yang dilaksanakan di Gerbang Wisata Sukpura (GWS) adalah sangat tepat sekali ”, Pungkas Hakim .

  • KUA Sumberasih Bahas Penguatan Program dan Persiapan HUT RI ke-81

    KUA Sumberasih Bahas Penguatan Program dan Persiapan HUT RI ke-81

    Foto Kegiatan Upacara HUT RI ke 80 ASN Kemenag di lapangan Banjarsari Sumberasih

    Sumberasih, (3 Agustus 2026) – Pengawas Madrasah Kecamatan Sumberasih, Wonomerto, dan Kuripan menggelar rapat koordinasi bersama Kepala KUA Sumberasih di Aula KUA Sumberasih, Senin (3/8/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi antarunsur Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas tata kelola administrasi, pelayanan, serta penguatan integritas di lingkungan kerja.

    Rapat dipimpin oleh Kepala KUA Sumberasih, H. Wawan Ali Suhudi, S.Ag., M.H., C.MD., dan dihadiri oleh Suparman, S.Pd.I., Iswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Siti Farida, S.Pd.I., M.Pd., serta Subuhastutik, S.Pd.I., M.Pd.I. Seluruh peserta mengikuti pembahasan secara aktif dengan memberikan masukan dan menyusun langkah tindak lanjut yang akan dilaksanakan bersama.

    Empat agenda utama menjadi fokus pembahasan dalam rapat tersebut, yaitu: (1) pembahasan Dokumen sebagai bagian dari kelengkapan administrasi dan supervisi madrasah,

    (2) penyusunan APP sebagai pedoman pelaksanaan program dan kegiatan,

    (3) penunjukan PIC MAHAR (Mari Hindari Gratifikasi) dalam rangka memperkuat implementasi budaya antigratifikasi dan pembangunan Zona Integritas, serta

    (4) persiapan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, yang meliputi koordinasi kegiatan, partisipasi, dan pembagian tugas.

    Melalui rapat koordinasi ini diharapkan terbangun komitmen bersama dalam meningkatkan profesionalisme, akuntabilitas, dan kolaborasi antar satuan kerja. Hasil rapat akan menjadi pedoman pelaksanaan program secara terintegrasi sehingga mampu mendukung terwujudnya pelayanan publik yang semakin berkualitas, transparan, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

  • KUA Kraksaan Cegah Pernikahan Dini Melalui BRUS Pesantren Ribath al-Maliky

    KUA Kraksaan Cegah Pernikahan Dini Melalui BRUS Pesantren Ribath al-Maliky

    Kontributor : M Taufiq H / Editor : Tim Redaksi

    KRAKSAAN, (03 Agustus 2026) – Dalam upaya meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya mempersiapkan masa depan yang berkualitas, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kraksaan melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kepada para siswa dan siswi Pondok Pesantren Ribath Al Maliki.

    Kegiatan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Ribath Al Maliki ini diikuti dengan penuh antusias oleh para santri. Pondok pesantren tersebut berada di bawah asuhan Gus Dr. Muh. Zainal Abidin, M.Pd., C.DAI., yang selama ini dikenal aktif dalam membina generasi muda melalui pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter.

    Dalam penyampaian materi, M. Taufik Hidayatullah, S.Pd.I sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Kraksaan menjelaskan bahwa pernikahan dini memiliki berbagai dampak yang perlu dipahami oleh remaja, mulai dari aspek kesehatan reproduksi, psikologis, pendidikan, hingga kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, remaja didorong untuk memanfaatkan masa mudanya sebagai periode belajar, mengembangkan potensi diri, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang sebelum memasuki jenjang pernikahan.

    Selain memberikan edukasi mengenai bahaya pernikahan dini, kegiatan BRUS juga mengajak para santri untuk memahami pentingnya menjaga pergaulan sesuai nilai-nilai agama, membangun cita-cita, serta memperkuat akhlak dan karakter sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

    Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Kraksaan berharap para remaja memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga secara matang sehingga mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Program BRUS menjadi salah satu bentuk komitmen KUA Kraksaan dalam membina generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, sehat, dan berkualitas sebagai generasi penerus bangsa.

  • Masjid Arrahiem Kemenag Probolinggo Mulai Difungsikan, Progres Renovasi Tembus 55 Persen

    Masjid Arrahiem Kemenag Probolinggo Mulai Difungsikan, Progres Renovasi Tembus 55 Persen

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    Probolinggo (03/08/2026) – Progres renovasi Masjid Arrahiem Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga Senin (3/8/2026), renivasi telah mencapai sekitar 55 persen. Meski proses renovasi masih berlangsung, masjid tersebut sudah kembali difungsikan secara bertahap untuk kegiatan ibadah, termasuk pelaksanaan Salat Jumat yang mulai digelar sejak Jumat (31/7/2026).

    Renovasi Masjid Arrahiem dilakukan sebagai upaya meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kualitas sarana ibadah bagi seluruh pegawai maupun masyarakat yang beribadah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.

    Ketua Panitia Pelaksana Renovasi, Khomisun, menjelaskan bahwa pekerjaan terus dikebut agar dapat selesai sesuai target tanpa mengurangi kualitas pembangunan. Menurutnya, berbagai tahapan konstruksi berjalan sesuai rencana.

    “Alhamdulillah, hingga hari ini progres renovasi telah mencapai sekitar 55 persen. Sejak Jumat kemarin, masjid sudah mulai kami tempati kembali untuk pelaksanaan Salat Jumat meskipun pekerjaan renovasi masih berlangsung di beberapa bagian. Hal ini dilakukan karena area utama yang digunakan untuk beribadah telah dinyatakan aman dan layak digunakan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, panitia tetap mengutamakan aspek keselamatan jamaah selama proses renovasi berlangsung. Pekerjaan yang masih berjalan dipusatkan pada bagian-bagian yang tidak mengganggu aktivitas ibadah sehingga renovasi dan pelayanan kepada jamaah dapat berjalan beriringan.

    Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Arrahiem, H. Imammuddin Nur Fajri, yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran proses renovasi dan antusiasme jamaah yang kembali memakmurkan masjid.

    “Masjid bukan hanya menjadi tempat menunaikan ibadah, tetapi juga pusat pembinaan keagamaan dan penguatan nilai-nilai spiritual bagi ASN maupun masyarakat. Kami bersyukur, di tengah proses renovasi, Salat Jumat sudah dapat kembali dilaksanakan. Semoga renovasi ini segera rampung sehingga Masjid Arrahiem dapat memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih nyaman, dan semakin menjadi pusat syiar Islam di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

    Dengan capaian renovasi yang telah menembus 55 persen, panitia optimistis renovasi Masjid Arrahiem dapat diselesaikan sesuai jadwal. Keberadaan masjid yang lebih representatif diharapkan semakin mendukung aktivitas peribadatan, pembinaan umat, serta menjadi simbol semangat pelayanan dan penguatan moderasi beragama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.

  • Menembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

    Menembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

    Kontributor : Alfun Naim / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    SUMBER, (03 Agustus 2026) – Di atas gumpalan kabut dan udara dingin pegunungan Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo tak menyurutkan derap langkah kaki menembus jalanan berliku untuk menenun benang-benang toleransi yang kian erat.

    Suasana Desa Wonokerso riuh berbalut khidmat. Warga adat suku Tengger tengah merayakan Hari Raya Karo, sebuah momentum suci tempat doa-doa keselamatan dipanjatkan dan tali persaudaraan dianyam kembali. Namun, ada pemandangan menarik yang menghangatkan ruang tamu warga lereng Tengger.

    Di antara lipatan kain batik dan sarung khas Tengger, hadir sosok Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sumber, Alfun Naim. Bukan untuk berdebat atau membawa sekat, melainkan untuk duduk sejajar, merawat keharmonisan di bumi multikultural ini.

    Kehangatan di Balik Pintu

    Langkah kaki sang penyuluh disambut senyum mengembang dari tuan rumah. Pintu-pintu kayu rumah warga Tengger terbuka lebar tanpa canggung. Di ruang tamu yang sederhana namun sarat keakraban, cangkir-cangkir kopi hangat dan aneka sajian khas Karo disuguhkan.

    “Perbedaan bukanlah sekat, melainkan perekat dalam menjalin silaturahmi serta memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah),” ungkap Naim.

    Gelak tawa dan dialog santai mengalir tanpa jarak. Kehadiran penyuluh agama Islam di tengah riuhnya ritual Karo menjadi bukti nyata bahwa moderasi beragama di lereng pegunungan Probolinggo ini bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan napas hidup sehari-hari. Ada rasa saling menghargai yang tulus terhadap tradisi dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun.

    Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian

    Perjalanan menuju Desa Wonokerso mungkin menuntut fisik yang tangguh karena medan pegunungannya, tetapi perjalanan spiritual dan kebudayaan di dalamnya jauh lebih menyentuh jiwa. Momen silaturahmi ini menegaskan betapa indahnya toleransi yang inklusif dan berkelanjutan saat semua pihak memilih untuk saling merawat, bukan meretakkan.

    Sinergi yang terjalin indah di balik kabut Desa Wonokerso ini bak oase. Keharmonisan masyarakatnya layak menjadi cermin teladan tentang bagaimana indahnya hidup berdampingan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Kabupaten Probolinggo.

    Satu hal yang tertinggal di Wonokerso: pesan damai bahwa di mana pun kaki dipijak, persaudaraan antarumat manusia akan selalu menemukan jalannya untuk hangat.