Author: Admin Bimas

  • KUA Bersama PAC Fatayat NU Tegalsiwalan Gelar Pembinaan Keluarga Sakinah

    KUA Bersama PAC Fatayat NU Tegalsiwalan Gelar Pembinaan Keluarga Sakinah

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    TEGALSIWALAN (02/08/2026) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tegalsiwalan bekerja sama dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Tegalsiwalan menggelar kegiatan Pembinaan Keluarga Sakinah di Balai Desa Sumberklidung, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh kader Fatayat NU dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui pembinaan keagamaan.

    Kegiatan dihadiri Kepala KUA Kecamatan Tegalsiwalan, Ananto Pratikno, bersama Penyuluh Agama Islam Khomisun, jajaran PAC Fatayat NU Tegalsiwalan, serta masyarakat setempat. Pembinaan difokuskan pada penguatan nilai-nilai keluarga sakinah, peningkatan pemahaman hak dan kewajiban dalam rumah tangga, serta pentingnya membangun keluarga yang harmonis sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

    Kepala KUA Kecamatan Tegalsiwalan, Ananto Pratikno, dalam sambutannya menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang menentukan kualitas generasi mendatang. Menurutnya, pembinaan keluarga tidak cukup dilakukan saat menjelang pernikahan, tetapi harus terus diperkuat melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

    “Keluarga sakinah tidak terbentuk secara instan. Dibutuhkan komitmen, komunikasi yang baik, saling menghormati, serta landasan nilai-nilai agama dalam setiap dinamika kehidupan rumah tangga. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

    Dalam sesi materi, Penyuluh Agama Islam Khomisun menyampaikan bahwa keluarga sakinah dibangun melalui keseimbangan antara hak dan kewajiban suami istri, pendidikan agama dalam keluarga, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bijak sana melalui musyawarah.

    “Rumah tangga yang kokoh lahir dari pasangan yang saling menguatkan. Ketika nilai-nilai keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan komunikasi yang sehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka keluarga akan menjadi tempat yang aman, damai, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia,” jelasnya.

    Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias melalui sesi penyampaian materi dan diskusi interaktif mengenai tantangan keluarga di era modern. Berbagai persoalan yang sering dihadapi keluarga, seperti komunikasi antarpasangan, pola pengasuhan anak, hingga penguatan ketahanan keluarga, menjadi topik pembahasan dalam forum tersebut.

    Melalui pembinaan ini, KUA Tegalsiwalan bersama PAC Fatayat NU berharap sinergi antara lembaga keagamaan, organisasi perempuan, dan masyarakat terus diperkuat sehingga lahir semakin banyak keluarga sakinah yang mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, memperkokoh ketahanan sosial, serta berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang religius, rukun, dan sejahtera.

  • Ribuan ASN Kemenag Jatim Padati Masjid Al Akbar, Gaungkan Harmoni Masjid untuk Perdamaian Dunia

    Ribuan ASN Kemenag Jatim Padati Masjid Al Akbar, Gaungkan Harmoni Masjid untuk Perdamaian Dunia

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    Surabaya (02/08/2026) – Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dalam kegiatan Istighosah dan Tabligh Akbar bertajuk “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace: Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026”, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus peneguhan komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat harmoni kehidupan beragama serta mendorong diplomasi keagamaan sebagai jalan menuju perdamaian dunia.

    Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, M.A., Gubernur Jawa Timur Dr. (H.C.) Khofifah Indar Parawansa, jajaran Polda Jawa Timur, Kodam V/Brawijaya, Forkopimda se-Jawa Timur, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, para rektor perguruan tinggi keagamaan, serta seluruh ASN Kementerian Agama se-Jawa Timur.

    Sejak siang, kawasan Masjid Al Akbar dipenuhi ribuan peserta yang mengikuti rangkaian istighosah, doa bersama, dan tabligh akbar. Kehadiran para tokoh agama, unsur pemerintah, serta aparat keamanan mencerminkan kuatnya sinergi lintas elemen dalam menjaga kerukunan umat beragama dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.

    Dalam sambutannya, Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis yang melampaui fungsi sebagai tempat ibadah.

    “Masjid harus menjadi pusat lahirnya peradaban, tempat tumbuhnya nilai kasih sayang, persaudaraan, dan dialog. Dari masjid, kita membangun diplomasi keagamaan yang mampu menghadirkan kedamaian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi teladan dunia dalam membangun harmoni kehidupan beragama, dan semangat itu akan kita bawa menuju International Grand Imams Conference 2026,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiyar, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi spiritual bagi seluruh ASN Kementerian Agama sekaligus memperkuat semangat pelayanan kepada masyarakat.

    “Kebersamaan ribuan ASN hari ini menunjukkan bahwa Kementerian Agama Jawa Timur memiliki tekad yang sama untuk menghadirkan pelayanan yang berintegritas, memperkuat moderasi beragama, dan menjadikan masjid sebagai pusat persatuan umat. Dari Jawa Timur, kita ingin mengirimkan pesan bahwa harmoni adalah fondasi utama menuju perdamaian dunia,” katanya.

    Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo turut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Kehadiran jajaran ASN Kemenag Kabupaten Probolinggo menjadi bentuk dukungan terhadap upaya memperkuat moderasi beragama dan membangun sinergi lintas sektor sebagaimana menjadi arah kebijakan Kementerian Agama.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bagi seluruh ASN untuk terus mengedepankan nilai-nilai keagamaan dalam menjalankan tugas.

    “Istighosah dan tabligh akbar ini memberikan energi spiritual bagi seluruh ASN agar tetap istiqamah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Semangat harmoni yang dibangun hari ini harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari memperkuat kerukunan umat, mengembangkan moderasi beragama, hingga membangun kolaborasi lintas elemen demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan bertema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” ini, Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan masjid sebagai pusat penguatan spiritual, pemberdayaan umat, dan diplomasi keagamaan. Semangat yang tumbuh dari Masjid Al Akbar Surabaya diharapkan menjadi pijakan menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu motor penggerak perdamaian dan kerukunan dunia.

  • Pimpin Rombongan ke Masjid Al-Akbar, Dr. Samsur Tegaskan Komitmen Kemenag dalam IGiC 2026

    Pimpin Rombongan ke Masjid Al-Akbar, Dr. Samsur Tegaskan Komitmen Kemenag dalam IGiC 2026

    Kontributor : Muh. Hefni (Inf) / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    SURABAYA, (2 Agustus 2026) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, menghadiri langsung rangkaian kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8).

    Kehadiran ini menegaskan komitmen kuat jajaran Kankemenag Kabupaten Probolinggo dalam mendukung penuh agenda diplomasi keagamaan Indonesia di kancah internasional.

    Tidak datang sendiri, Dr. Samsur memimpin rombongan dari Kabupaten Probolinggo sebanyak 250 orang ASN. Ia didampingi oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, para Kepala Seksi, Kepala dan Pengawas Madrasah, Kepala KUA, Penghulu, hingga Penyuluh Agama Islam untuk menyukseskan perhelatan yang dirangkai dengan Istighatsah dan Tabligh Akbar tersebut.

    Menurut Dr. Samsur, keterlibatan aktif ini merupakan langkah nyata daerah dalam mendukung penguatan peran imam dan fungsi masjid. “Imam dan masjid memiliki peran penting dalam membina umat, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya di sela-sela acara.

    Lebih lanjut, Dr. Samsur berharap nilai-nilai moderasi yang digaungkan dalam forum ini bisa diimplementasikan hingga tingkat akar rumput di Kabupaten Probolinggo. Ia mendorong terciptanya sinergi yang makin kokoh antara Kementerian Agama, ulama, imam masjid, serta masyarakat di daerahnya.

    Acara berskala besar ini juga dihadiri oleh Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang menyampaikan orasi ilmiah mengenai Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace. Di samping itu, hadir pula Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang memperkuat pesan persatuan bangsa.

    Melalui partisipasi aktif dalam menyongsong puncak IGIC 2026, Kankemenag Kabupaten Probolinggo berkomitmen terus memperkenalkan praktik keberagamaan Indonesia yang moderat, damai, dan inklusif. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan agama sebagai pilar utama dalam membangun kerukunan umat.

  • Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan Antarumat Beragama Adalah Modal Utama Pembangunan

    Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan Antarumat Beragama Adalah Modal Utama Pembangunan

    JAKARTA, (1 Agustus 2026) — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kemajuan bangsa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, dan politik, melainkan juga berakar pada kekuatan doa, akhlak mulia, serta kerukunan antarsesama.

    Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Acara yang dihadiri sekitar 100 ribu peserta dari pelbagai daerah dan latar belakang agama ini menjadi momentum ikhtiar batin untuk memperkuat pembangunan nasional.

    “Dengan zikir kita meneguhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi,” kata Menag dalam sambutannya.

    Menag mengapresiasi peran aktif para tokoh agama dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Hasilnya, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) mencatatkan kenaikan signifikan dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025.

    Capaian tersebut tidak hanya memecahkan rekor tertinggi, tetapi juga berhasil melampaui target RPJMN 2025 (76,47) dan makin mendekati target akhir 2029 sebesar 78,25.

    “Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita dipersatukan oleh cinta yang sama kepada Indonesia,” ujar Nasaruddin.

    Dalam kesempatan itu, Kemenag turut memaparkan sejumlah hasil kerja nyata dalam mendukung program prioritas pemerintah:

    • Sektor Pendidikan: Lebih dari 5,1 juta siswa menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), dan 289.255 mahasiswa keagamaan memperoleh KIP Kuliah. Selain itu, dilakukan revitalisasi pada 556 madrasah/sekolah keagamaan, pembangunan 352 madrasah, 34 PTKN, serta penyebaran 2.180 papan interaktif digital.

    • Inovasi & Lingkungan: Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, serta program ekoteologi yang fokus pada penanaman pohon, pelestarian mangrove, dan terumbu karang.

    • Ekonomi Umat: Penghimpunan zakat tahun 2025 tumbuh 12% hingga mencapai Rp44,7 triliun (menjangkau 140 juta mustahik). Wakaf uang juga terhimpun sebesar Rp4,7 triliun, berdampingan dengan pengelolaan 50 ribu hektar tanah wakaf di seluruh Indonesia.

    Menag mengakhiri sambutannya dengan mengajak seluruh pimpinan dan tokoh agama menjadikan momentum zikir bersama ini sebagai energi spiritual untuk membawa Indonesia mencapai puncaknya.

  • ‘ISHARI’ Menembus Badai Modernisasi Bersama Rahasia Terpendamnya

    ‘ISHARI’ Menembus Badai Modernisasi Bersama Rahasia Terpendamnya

    Kontributor : Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat

    TONGAS, (31 Juli 2026) – Suara tebukan rebana membahana, memecah hening malam di pelataran Pendapa Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis malam (30/07/2026).

    Ratusan Jemaah pria berbaju koko putih duduk rapi berbanjar. Ketika irama kian memuncak, tubuh-tubuh itu bergerak serempak—memiringkan bahu, mengayunkan tangan, dan menundukkan kepala dalam satu ritme penuh kidmat. Di tengah gemuruh vokal massal yang melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tercipta sebuah atmosfer spiritual yang begitu magis.

    Inilah budaya dan tradisi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia)—sebuah warisan mahakarya budaya dan spiritual yang tak sekadar bertahan, tetapi terus berdenyut kencang di tengah gelombang budaya lagu pop juga sound “Horeg”.

    Akar Spiritual dari Rahim Pesantren

    Lahir dari rahim tradisi pesantren Jawa Timur pada sekitar awal abad ke-20, ISHARI bukanlah sekadar pertunjukan seni pertunjukan biasa. Akar spiritualnya menancap kuat pada pembacaan kitab-kitab pujian klasik seperti Al-Barzanji.

    Bagi para ulama terdahulu, kesenian ini adalah metode dakwah kultural yang sangat cerdas.

    Di zaman ketika masyarakat membutuhkan pendekatan yang luwes, musik dan gerak tubuh dirajut menjadi jembatan emosional. Tanpa mengikis esensi religius, keindahan irama dan kebersamaan digunakan untuk merangkul masyarakat luas.

    Gerakan yang awalnya tumbuh secara sporadis tak ada komando di pelosok-pelosok desa ini, kemudian menemukan bentuk formalnya. Di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), gerakan seni ini terwadahi secara resmi dalam wadah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), menegaskan posisinya sebagai benteng kebudayaan Islam Nusantara.

    Simfoni Gerak, Ketukan, dan Harmoni Massal

    Daya pikat utama ISHARI yang membuatnya terus memikat lintas generasi terletak pada struktur penampilannya yang unik dan kolosal sangat tradisional (jauh dari modernitas). Setiap pertunjukan adalah perpaduan antara ketangkasan fisik, keahlian bermusik, dan kedalaman spiritual berdimensi tasawuf.

    Ketukan Rebana yang bertenaga dalam setiap penampilan ISHARI memiliki tempo konstan, cepat, dan penuh energi. Ketukan ini menjadi “jantung” yang memandu alur Sholawat sekaligus mengomandoi setiap gerakan.

    Gerakan Roddat merupakan gerakan tangan, bahu, dan kepala yang sinkron bukan sekadar koreografi, melainkan lambang kekompakan, kedisiplinan, serta keteguhan iman yang kokoh.

    Harmoni penabuh rebana dan penggerak roddat memadukan dialog vokal antara pelantun utamadan paduan suara massal yang menghadirkan simfoni vokal menggetarkan dada siapa pun yang mendengarkannya.

    Mengapa ISHARI Tak Meredup Dijalan Zaman?

    Di era ketika hiburan digital dan musik modern mendominasi layar kaca dan gawai generasi muda, ISHARI justru membuktikan ketahanannya. Ada tiga pilar utama yang menjadi rahasia kelanggengan seni tradisi ini:

    Kaderisasi Berbasis Organik: Regenerasi ISHARI tidak bergantung pada institusi formal yang kaku, melainkan mengalir alami di pesantren, madrasah, dan majelis taklim di hampir seluruh pelosok di Jawa Timur. Sejak usia dini, para santri telah diakrabkan dengan ketukan terbang dan bait-bait Sholawat.

    Nilai Komunal Tanpa Sekat: Dalam barisan ISHARI, tidak ada panggung hierarkis yang memisahkan penampil senior dan junior. Semua duduk sejajar di atas alas yang sama, meleburkan ego individu dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).

    Keteguhan Budaya: Tanpa mengorbankan kesucian esensinya, ISHARI kini hadir secara inklusif. Seni ini kerap menghiasi festival kebudayaan megah, panggung perayaan warga, hingga peringatan hari besar nasional, menjadikannya tetap relevan dan dibanggakan oleh generasi muda urban.

    Jadi Benteng Spiritual Nusantara

    ISHARI adalah bukti hidup bahwa seni tradisional tidak harus punah digilas roda zaman. Ia bukan fosil kebudayaan yang hanya disimpan di museum, melainkan tradisi bernapas yang terus dirawat oleh masyarakatnya.

    Selama denyut nadi selawat masih berhembus dan semangat kebersamaan terus dijaga, gemuruh rebana ISHARI akan senantiasa menjadi benteng budaya dan spiritual yang tak tergoyahkan di tanah Nusantara.

  • Probolinggo Mengetuk Pintu Langit, Ratusan Jamaah Bersholawat Bersama PC ISHARI NU di Tongas

    Probolinggo Mengetuk Pintu Langit, Ratusan Jamaah Bersholawat Bersama PC ISHARI NU di Tongas

    Kontributor/Editor : Tim Redaksi

    TONGAS, (30 Juli 2026) – Pemerintah Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan Dzikir dan Sholawat bersama Pengurus Cabang (PC) Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama Kabupaten Probolinggo di halaman Pendopo Kecamatan Tongas, Jumat (30/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program prioritas daerah “Probolinggo Mengetuk Pintu Langit”, yang bertujuan memperkuat sinergi antara pembangunan daerah dengan penguatan spiritual masyarakat melalui lantunan dzikir dan sholawat.

    Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), pengurus MWCNU Tongas beserta badan otonomnya, ASN Kemenag Kabupaten Probolinggo serta masyarakat dari berbagai wilayah yang memadati lokasi acara. Suasana berlangsung khidmat ketika ribuan jamaah bersama-sama melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang diiringi tabuhan rebana khas ISHARI.

    ISHARI merupakan organisasi seni hadrah yang lahir dari tradisi pesantren di Jawa Timur pada awal abad ke-20. Kesenian ini berakar pada pembacaan kitab Syaraful Anam atau Al-Barzanji yang berisi sejarah dan pujian kepada Rasulullah SAW. Sejak awal, para ulama memanfaatkan seni hadrah sebagai media dakwah kultural yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara santun, merangkul masyarakat melalui perpaduan musik rebana, syair-syair sholawat, dan gerakan roddat yang sarat makna.

    Keunikan penampilan ISHARI tampak pada irama rebana yang ritmis dan bertenaga, dipadukan dengan gerakan roddat yang dilakukan secara serempak oleh para anggota. Sinkronisasi gerakan tangan, pundak, dan kepala melambangkan kekompakan, kedisiplinan, serta semangat persaudaraan. Harmoni antara pelantun vokal utama (penerbang) dan paduan suara (penggerrong) menghadirkan suasana religius yang menggetarkan dan memperkuat kekhusyukan jamaah.

    Di tengah perkembangan budaya modern, ISHARI tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya Islam Nusantara. Keberlangsungannya ditopang oleh sistem kaderisasi yang tumbuh di lingkungan pesantren, madrasah, dan majelis taklim, semangat kebersamaan yang melibatkan berbagai generasi, serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai kegiatan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan para ulama.

    Melalui program “Probolinggo Mengetuk Pintu Langit”, Pemerintah Kabupaten Probolinggo berharap kegiatan dzikir dan sholawat tidak hanya menjadi ruang mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga memperkuat karakter religius masyarakat sekaligus menjaga kelestarian seni hadrah ISHARI sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual bangsa.

  • Jemput Bola Layanan SAHABAT di KUA Banyuanyar, Bimas Islam Monev Bimwin dan BRUS

    Jemput Bola Layanan SAHABAT di KUA Banyuanyar, Bimas Islam Monev Bimwin dan BRUS

    Banyuanyar, (30 Juli 2026) – Kementerian Agama terus berkomitmen menghadirkan pelayanan yang cepat, mudah, dan berkualitas kepada masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Jemput Bola Layanan SAHABAT yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banyuanyar, Kamis (30/7/2026).

    Kegiatan dipimpin oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Muhammad Imamuddin Nur Fajri, bersama Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Ansori. Turut hadir mendampingi Plt. Kepala KUA Banyuanyar, Hartono, beserta operator EMIS, SINTREN, dan SIPDARLPQ, M. Sholeh, serta Nasir dan jajaran terkait.

    Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Imamuddin Nur Fajri melakukan monitoring terhadap pelaksanaan Bimbingan perkawinan di KUA dan evaluasi layanan BRUS (bimbingan remaja usia sekolah) sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan Bimas Islam. Monitoring dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan administrasi berjalan sesuai prosedur, tepat waktu, dan memberikan kemudahan bagi masyarakat.

    Di saat yang sama, Ansori memimpin penguatan layanan verifikasi lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin) bersama tim verifikator kecamatan. Kegiatan ini bertujuan memastikan validitas data serta kelengkapan administrasi lembaga agar pembinaan dan pengelolaan pendidikan keagamaan semakin tertata.

    Operator EMIS, SINTREN, dan SIPDARLPQ, M. Sholeh, memberikan pendampingan teknis kepada para operator lembaga dalam proses verifikasi dan pembaruan data. Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan akurasi data sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pembinaan pendidikan keagamaan.

    Muhammad Imamuddin Nur Fajri menyampaikan bahwa kegiatan jemput bola merupakan bentuk nyata komitmen Kementerian Agama dalam mendekatkan layanan kepada masyarakat.

    “Melalui layanan jemput bola ini, kami ingin memastikan seluruh layanan Bimas Islam maupun pembinaan lembaga pendidikan keagamaan dapat diakses dengan mudah, cepat, dan tepat sasaran. Sinergi antara KUA, tim verifikator, dan operator menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan,” ujarnya.

    Senada dengan itu, Ansori menegaskan pentingnya verifikasi data TPQ dan Madin sebagai fondasi pembinaan yang berkelanjutan.

    “Data yang valid akan mendukung penyusunan program pembinaan yang tepat sasaran. Karena itu, kami terus memperkuat koordinasi dengan tim verifikator kecamatan dan para operator agar proses verifikasi berjalan optimal,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara Bimas Islam, PD Pontren, KUA, tim verifikator, dan para operator semakin kuat sehingga pelayanan keagamaan dan pembinaan lembaga pendidikan Islam di Kecamatan Banyuanyar dapat terlaksana secara profesional, akuntabel, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (Aan)

  • Pengurus KKGPAI Probolinggo Periode 2026-2029, Resmi Dikukuhkan

    Pengurus KKGPAI Probolinggo Periode 2026-2029, Resmi Dikukuhkan

    PROBOLINGGO, (30 Juli 2026) – Pengurus Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kabupaten Probolinggo periode 2026-2029 resmi dilantik. Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini digelar di Ruang Aula 2 Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo pada Kamis (30/7/2026).Momen ini dinilai menjadi babak baru yang strategis untuk memperkuat solidaritas guru. Selain itu, kepengurusan baru diharapkan mampu mendongkrak kualitas pendidikan agama Islam di tingkat sekolah dasar.

    Acara inti pengukuhan ditandai dengan pembacaan surat keputusan, pengucapan ikrar bersama, dan penyerahan amanah jabatan yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd.I.

    Dalam arahannya, Kepala Kantor Kemenag Probolinggo, Dr. H. Samsur, mengingatkan para pengurus untuk menjadikan pelantikan ini sebagai bahan bakar motivasi. Ia meminta guru-guru PAI lebih kreatif dalam mengajar di sekolah masing-masing.”Jadikan pengukuhan ini sebagai motivasi untuk menguatkan solidaritas, pengembangan kreativitas yang bermanfaat untuk siswa di masing-masing lembaga. Terutama dalam membentuk karakter dan moral siswa yang telah ditetapkan agama agar tidak menyimpang,” ujar Samsur.

    Menurutnya, KKG PAI adalah wadah krusial bagi para guru untuk terus belajar, berkolaborasi, dan meningkatkan kompetensi profesional secara mandiri dan berkelanjutan.

    Merespons arahan tersebut, Ketua KKG PAI Kabupaten Probolinggo yang baru dikukuhkan, Hudriamin, S.Pd.I., menyatakan siap mengemban tanggung jawab besar ini. Namun, ia menggarisbawahi bahwa roda organisasi tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan penuh dari para anggota. ”Keberhasilan organisasi ini tidak hanya ditentukan oleh jajaran pengurus, tetapi juga oleh partisipasi aktif seluruh anggota dalam mendukung program-program yang telah dirancang,” tutur Hudriamin optimis.

    Siap Kawal Kendala Data SIAGA dan EMIS

    Di lokasi yang sama, Kasi PAIS Kemenag Kabupaten Probolinggo, Moh. Sugiyanto, memberikan catatan penting terkait pelayanan internal organisasi. Ia meminta pengurus baru bergerak cepat merangkul seluruh Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di wilayah Probolinggo tanpa terkecuali.

    Salah satu fokus utamanya adalah memberikan asistensi digital bagi para guru yang kerap menemui kendala teknis di lapangan.

    ”Pengurus harus selalu merangkul dan menguatkan solidaritas seluruh GPAI di Kabupaten Probolinggo. Terutama dalam membantu teman-teman GPAI yang kesulitan saat melakukan input data, baik di aplikasi SIAGA maupun EMIS,” tegas Sugiyanto.

    Melalui nakhoda baru ini, KKG PAI Kabupaten Probolinggo diharapkan bertransformasi menjadi organisasi yang jauh lebih solid, kreatif, dan inovatif. Hasil akhirnya, organisasi profesi ini mampu melahirkan generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, sekaligus tangguh dalam merawat kerukunan di tengah keberagaman. (Inf)

  • Early Warning Sistem Antisipasi Persoalan yang Berpotensi Menimbulkan Konflik Sosial Keagamaan, Kemenag Perkuat Sinergi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren

    Early Warning Sistem Antisipasi Persoalan yang Berpotensi Menimbulkan Konflik Sosial Keagamaan, Kemenag Perkuat Sinergi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren

    Kontributor : Muh. Hefni (Inf) / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    TEGALSIWALAN (30 Juli 2026), – Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui seksi Bimas Islam dan KUA Tegalsiwalan terus memperkuat sinergi lintas sektor sebagai langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial keagamaan, khususnya di lingkungan pendidikan dan pondok pesantren. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan silaturahmi dan penguatan koordinasi bersama unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan pengelola lembaga pendidikan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Mukhlasin, Kecamatan Tegal Siwalan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (30/7/2026).

    Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo M. Imamuddin Nur Fajri, Camat Tegal Siwalan, unsur TNI, Polri, Densus 88 Antiteror Polri wilayah Jatim, para Penyuluh Agama Islam, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Ansori, serta Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhlasin, Dr. KH. Khusnu Milad.

    Dalam sambutannya, Kepala Seksi Bimas Islam M. Imamuddin Nur Fajri menegaskan bahwa silaturahmi dan kolaborasi lintas sektor merupakan modal sosial yang sangat penting dalam menjaga kerukunan umat beragama, memperkuat persatuan bangsa, serta mencegah munculnya berbagai persoalan yang berpotensi berkembang menjadi konflik sosial keagamaan.

    “Jalinan silaturahmi seperti ini diharapkan terus berjalan sehingga mampu memperkuat ukhuwah, membangun kolaborasi, serta menjaga persatuan di tengah masyarakat. Persaudaraan merupakan nilai yang sangat mahal dan harus terus dipelihara,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa penguatan koordinasi antarlembaga juga menjadi bagian dari Early Warning System (EWS) dalam mendeteksi secara dini berbagai potensi persoalan di lingkungan pendidikan dan pesantren, sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan melalui pendekatan edukatif, dialogis, dan kolaboratif sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

    Pada kesempatan tersebut, perwakilan Densus 88 Antiteror Satgas Wilayah Jawa Timur yang membawahi Probolinggo, Pasuruan, dan Malang, Abang Sumarwan, menjelaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari undangan Kementerian Agama untuk memberikan penguatan wawasan kebangsaan serta pencegahan radikalisme kepada kalangan santri.

    Ia menjelaskan bahwa sejak dibentuk pada tahun 2002 pasca peristiwa Bom Bali I, Densus 88 tidak hanya melaksanakan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme, tetapi juga mengedepankan langkah-langkah preventif melalui program deradikalisasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan berbagai pemangku kepentingan.

    “Densus 88 ibarat pemadam kebakaran. Penindakan saja tidak cukup tanpa diimbangi upaya pencegahan. Karena itu kami membangun kolaborasi bersama Kementerian Agama, dunia pendidikan, tokoh agama, dan masyarakat agar paham radikal tidak berkembang,” jelasnya.

    Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena sejak tahun 2023 hingga saat ini tidak terjadi serangan bom teror. Namun demikian, ancaman penyebaran ideologi radikal masih tetap ada, terutama melalui media digital yang menyasar generasi muda dan anak-anak.

    Ia mengungkapkan bahwa sejumlah kasus menunjukkan adanya keterlibatan pelajar yang terpapar paham ekstrem akibat lemahnya pemahaman jati diri, pengaruh lingkungan, maupun persoalan psikologis seperti perundungan (bullying). Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter, pengawasan terhadap aktivitas digital peserta didik, serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, penyuluh agama, psikolog, dan aparat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

    “Kami mengimbau agar sekolah dan orang tua secara berkala melakukan pengawasan terhadap penggunaan gawai anak. Apabila ditemukan konten yang mengarah pada kekerasan, simbol-simbol ekstremisme, atau indikasi intoleransi, maka pendekatan yang dikedepankan adalah pembinaan dan konseling. Densus 88 tidak dapat bekerja sendiri. Pencegahan radikalisme membutuhkan sinergi semua pihak,” tegasnya.

    Selain isu radikalisme, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP). Regulasi tersebut menjadi landasan bagi seluruh satuan pendidikan untuk memberikan pelindungan kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan sekaligus mencegah berbagai persoalan yang berpotensi memicu konflik sosial.

    Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhlasin, Dr. KH. Khusnu Milad, mengajak para santri dan alumni untuk mengambil peran aktif dalam membangun narasi positif di ruang digital. Menurutnya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah yang menebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, damai, toleran, dan berwawasan kebangsaan.

    “Kami mengajak seluruh alumni dan santri untuk aktif bermedia sosial sebagai bagian dari jihad intelektual dan dakwah kebangsaan dalam menangkal penyebaran paham intoleransi serta radikalisme. Ruang digital harus dipenuhi dengan pesan-pesan persatuan, kedamaian, dan moderasi beragama,” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa penyebaran paham radikal maupun berbagai persoalan sosial lainnya tidak boleh dianggap sebagai hal yang sepele. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat kewaspadaan, mempererat koordinasi, serta membangun sistem deteksi dini agar setiap potensi persoalan dapat diselesaikan secara cepat, tepat, dan bijaksana.

    Melalui kegiatan ini, seluruh peserta berkomitmen memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, pondok pesantren, tokoh agama, dan masyarakat dalam membangun sistem kewaspadaan dini (Early Warning System), menjaga kerukunan umat beragama, mencegah berkembangnya radikalisme, ekstremisme, kekerasan, serta berbagai persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial keagamaan, khususnya di lingkungan pendidikan dan pesantren, demi terwujudnya Indonesia yang aman, damai, harmonis, dan berkeadaban.

  • BRUS Kemenag Probolinggo di Ponpes Al Kholiliyah Al Mubarokah Tekankan Pencegahan Kenakalan Remaja dan Penguatan Early Warning System

    BRUS Kemenag Probolinggo di Ponpes Al Kholiliyah Al Mubarokah Tekankan Pencegahan Kenakalan Remaja dan Penguatan Early Warning System

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    MARON (30 Juli 2026) – Upaya membentuk generasi muda yang tangguh, moderat, dan berkarakter terus diperkuat oleh Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui seksi Bimas Islam Menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Pondok Pesantren Al Kholiliyah Al Mubarokah, Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Kamis (30/07/2026) ini menghadirkan konsep yang berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

    Selain membahas penguatan karakter remaja dan pencegahan perkawinan anak, BRUS kali ini lebih menitikberatkan pada isu kenakalan remaja, bahaya radikalisme, serta penguatan Early Warning System (EWS) sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi konflik sosial dan penyebaran paham ekstremisme di lingkungan generasi muda.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo H. Imammuddin Nur Fajri, S.Ag., M.HI., Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Probolinggo H. Moh. Amin, S.Ag., M.Pd.I. yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Maron, Satgaswil Densus 88 Anti Teror, para Penyuluh Agama Islam KUA Maron, serta Tim Fasilitator BRUS Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.

    Secara terpisah, Kasi Bimas Islam Imam Mudin Nur Fajri, S.Ag, M.HI. menegaskan bahwa remaja merupakan aset strategis bangsa yang harus dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, akhlak yang baik, serta pemahaman agama yang moderat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai penyimpangan sosial maupun ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

    “BRUS bukan sekadar memberikan penyuluhan kepada remaja, tetapi menjadi ruang pembinaan untuk menyiapkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki daya tangkal terhadap berbagai ancaman, mulai dari kenakalan remaja, perkawinan anak, penyalahgunaan media sosial hingga paparan paham radikal. Melalui pendekatan Early Warning System, kita ingin membangun kesadaran sejak dini agar para remaja mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan masing-masing,” tegasnya.

    Sementara itu, materi mengenai deradikalisasi dan literasi digital disampaikan oleh AKP. Anang Sumawan, S.H., M.AP. dari Satgaswil Densus 88 Anti Teror. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa manfaat besar, namun juga menjadi pintu masuk penyebaran propaganda ekstremisme apabila tidak digunakan secara bijaksana.

    “Media sosial dapat menjadi sarana belajar dan berkarya, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menyebarkan paham intoleran dan radikal. Karena itu, setiap remaja harus memiliki kemampuan menyaring informasi, tidak mudah percaya pada berita provokatif, serta selalu mengedepankan tabayun sebelum membagikan suatu informasi. Jadilah generasi yang cerdas bermedia sosial dan berani menolak segala bentuk ajakan yang mengarah pada kekerasan maupun radikalisme,” jelasnya.

    Sepanjang kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi. Diskusi interaktif, sesi tanya jawab, hingga penyampaian studi kasus mendapatkan respons positif dari para santri dan remaja yang mengikuti kegiatan. Mereka aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan pergaulan remaja, bahaya perkawinan usia anak, penggunaan media sosial yang sehat, serta langkah-langkah mengenali indikasi penyebaran paham radikal di lingkungan sekitar.

    Melalui pelaksanaan BRUS yang dikolaborasikan dengan penguatan Early Warning System (EWS), Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo berharap lahir generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial, mampu mendeteksi berbagai potensi ancaman sejak dini, serta menjadi pelopor kerukunan, toleransi, dan persatuan bangsa.