Author: Admin Bimas

  • Masjid Agung Ar-raudlah, Simbol Kabupaten Probolinggo Sebagai Kota Santri

    Masjid Agung Ar-raudlah, Simbol Kabupaten Probolinggo Sebagai Kota Santri

    KRAKSAAN, 26 Juli 2026 — Kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo, khususnya para jamaah Masjid Agung Ar-Raudhah Kraksaan. Akses jalan menuju masjid dari sisi depan kembali dibuka sejak rampungnya pekerjaan renovasi jalan atau halaman masjid disamping alun-alun Kraksaan. Kebijakan ini resmi berlaku setelah adanya keputusan bersama rapat koordinasi (rakor) yang digelar pengurus Yayasan Masjid Agung Ar-Raudhah bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

    Ketua Takmir Zubaidi menjelaskan, rapat koordinasi menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang akan segera ditindaklanjuti. Salah satunya adalah membuka sebagian tiang bollard yang selama ini menutup akses jalan di sisi selatan depan masjid agar kendaraan roda empat dapat masuk menuju kawasan masjid.

    Selain itu, jalur pedestrian di sisi utara juga akan dibuka sebagian sebagai akses kendaraan menuju area parkir utara. Sementara area di sisi selatan tetap tidak diperkenankan digunakan sebagai lokasi parkir bus guna menjaga kelancaran lalu lintas di sekitar kawasan alun-alun.

    Masjid sebagai simbol Identitas Religius masyarakat

    Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan adalah simbol dan identitas religius Kabupaten Probolinggo.

    Masjid bersejarah ini tidak sekadar menjadi tempat ibadah murni, melainkan episentrum peradaban dan simbol kentalnya tradisi kepesantrenan di wilayah tersebut.

    Sejarah Singkat Masjid

    Masjid Agung Ar-Raudlah diakui sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Probolinggo. Berdiri kokoh di sebelah barat Alun-alun Kraksaan, keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu perkembangan wilayah Kraksaan dari masa ke masa.

    Masjid ini dibangun sekitar tahun 1734 oleh Kiai Haji Abdul Wahab. Beliau merupakan seorang ulama terkemuka asal Madura yang lebih akrab disapa oleh masyarakat setempat sebagai Kiai Ronggo.

    Sosok Kiai Ronggo: Selain menjadi tokoh pejuang agama Islam yang menyebarkan dakwah bersama para santrinya, Kiai Ronggo diakui sebagai pendiri Kota Kraksaan dan pernah menjabat sebagai pejabat bupati pada masa tersebut.

    Saat pertama kali didirikan, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Jamik At-Taqwa. Pada tahun 1981, namanya diubah menjadi Masjid Jamik Ar-Raudlah. Baru pada sekitar era tahun 2000-an, status dan namanya dinaikkan menjadi Masjid Agung Ar-Raudlah seiring ditetapkannya Kraksaan sebagai ibu kota kabupaten.

    Pilar masjid peninggalan Kyai Ronggo

    Walaupun struktur luar bangunan telah mengalami renovasi total sebanyak beberapa kali sejak tahun 1960 demi menampung jemaah yang lebih banyak, takmir masjid tetap mempertahankan tiga peninggalan asli buatan Kiai Ronggo yaitu empat pilar penyangga utama (soko guru) yang terbuat dari kayu jati kokoh di dalam ruang utama masjid Bedug kecil asli peninggalan masa lampau dan juga Sumur tua di area belakang yang airnya sering kali dimanfaatkan warga sekitar karena dipercaya membawa berkah.

    Budaya Kraksaan Kaum Santri

    Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo secara umum berada di wilayah kebudayaan Pandalungan, yakni zona leburan antara budaya Jawa dan Madura. Letak geografis ini melahirkan karakter masyarakat santri yang khas, kuat, namun adaptif.

    Sentralitas Pondok Pesantren

    Kraksaan dikelilingi oleh banyak lembaga pesantren berpengaruh —seperti Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pesantren Al-Mashduqiah, Darul Hikmah, Pesantren Nurul Jadid hingga Nurul Qur’an. Hal ini membuat pemandangan pemuda-pemudi bersarung, berpeci, dan berhijab menjadi pemandangan harian yang lumrah dan membentuk lanskap sosial kota.

    Kepatuhan dan Takzim kepada Ulama

    Kebudayaan santri di Kraksaan menempatkan sosok kiai atau ulama bukan sekadar sebagai guru mengaji, melainkan sebagai penasihat sosial, rujukan politik, dan figur teladan hidup. Keputusan-keputusan komunal di masyarakat sering kali diambil setelah sowan (berkunjung) meminta restu kiai.

    Tradisi Amalan Keagamaan Komunal

    Budaya santri di sini hidup melalui kegiatan rutin seperti pembacaan manaqib, selawatan, istigatsah, dan tahlilan yang diadakan bergilir dari rumah ke rumah. Kegiatan subuh berjamaah, pengajian kitab kuning interaktif, serta peringatan hari besar Islam (seperti Hari Santri Nasional yang rutin memutihkan Kraksaan dengan lautan sarung) selalu diikuti ribuan warga.

    Gaya Hidup Bersahaja (Slow Living)

    Kehidupan di lingkungan santri Kraksaan kental dengan nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, dan ketenangan. Fokus utama masyarakat tertuju pada keberkahan hidup, jalinan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), serta gotong royong yang tinggi saat merawat fasilitas publik seperti kawasan masjid agung.

    Hubungan antara Masjid Agung Ar-Raudlah dan masyarakat santri Kraksaan adalah hubungan yang saling menghidupkan. Masjid menjadi jangkar sejarah dan wadah fisik bagi berkumpulnya umat, mencerminkan suasana kehidupan religius rakyat setempat yang notabene adalah kaum santri. Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dan Budaya Masyarakat Santri adalah dua elemen yang saling mengikat dan membentuk identitas religius di ibu kota Kabupaten Probolinggo. (Inf)

  • Mulai Hari Ini, Masjid Ar-Rahim Akhirnya di Bongkar

    Mulai Hari Ini, Masjid Ar-Rahim Akhirnya di Bongkar

    Kontributor : Homisun

    PROBOLINGGO, 25 Juli 2026 – Wajah Masjid Ar-Rahiem yang berlokasi di dalam lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo bakal berubah. Pekerjaan renovasi tempat ibadah ini resmi dimulai hari ini, ditandai dengan pembongkaran seluruh keramik lantai utamanya. Proses pengerjaan lantai ini ditargetkan bisa rampung dalam waktu seminggu ke depan. Setelah urusan lantai beres, takmir masjid juga berencana untuk melanjutkan rencana pembangunan Tahap II.

    “Dana yang terkumpul sebesar kurang lebih Rp 75 juta yang dipakai buat mendanai renovasi ini bukan berasal dari kas pemerintah, melainkan murni dari dompet swadaya alias iuran sukarela para pegawai Kemenag sendiri, mohon doanya semoga sesuai rencana dan diberikan kelancaran”, ungkap Imamuddin Nur Fajri, kepala seksi Bimas Islam Kemenag selaku ketua takmir masjid.

    Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Drs. Samsur, mengaku sangat senang karena peremajaan masjid yang dinanti-nanti ini akhirnya bisa terlaksana.

    “Kami ingin masjid ini jadi jauh lebih nyaman untuk dipakai salat, baik buat teman-teman pegawai yang sehari-hari kerja di sini maupun warga masyarakat yang kebetulan lagi mampir mengurus berkas,” ujar Samsur tersenyum.

    Di lokasi yang sama, Kasubbag TU Kemenag Kabupaten Probolinggo, M. Sa’dun, ikut menjelaskan bahwa proses pengerjaan akan diusahakan secepat mungkin agar tidak mengganggu kenyamanan terlalu lama.

    “Hari ini kita fokus bersihkan dulu semua keramik lama. Targetnya 2 minggu ini semua sudah beres dan rapi, baru setelah itu kita lanjut ke rencana pembangunan Tahap II. Fokus di Tahap II nanti adalah mempercantik ruangan dengan dekorasi kaligrafi, serta merombak total area kamar mandi dan tempat wudhu agar lebih bersih dan nyaman. Selama tukang bekerja, area salat kita pindahkan sementara ke aula kantor. Jadi, urusan pelayanan masyarakat tetap aman dan ibadah juga tidak terganggu,” kata M. Sa’dun.

  • BPJPH Perkuat Sinergi Jaminan Produk Halal Melalui Fasilitasi Perizinan Usaha Pengasapan Ikan di Kabupaten Probolinggo

    BPJPH Perkuat Sinergi Jaminan Produk Halal Melalui Fasilitasi Perizinan Usaha Pengasapan Ikan di Kabupaten Probolinggo

    Kontributor : Fetta NS / Editor : Muh. Hefni & Tim Redaksi

    Probolinggo (Kraksaan) – Balai Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Jawa Timur turut mendukung kegiatan fasilitasi perizinan usaha yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo bagi pelaku usaha pengasapan ikan di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (23/7).

    Kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk meningkatkan legalitas usaha sekaligus mendorong pemenuhan kewajiban sertifikasi halal bagi pelaku usaha hasil perikanan. Dalam kegiatan tersebut, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Probolinggo memberikan layanan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), sedangkan BPJPH memberikan sosialisasi mengenai penyelenggaraan Jaminan Produk Halal (JPH) dan mekanisme sertifikasi halal.

    Kepala Balai Penyelenggara Jaminan Produk Halal, M. Fauzi, S.Ag.,M.HI, menyampaikan bahwa legalitas usaha melalui NIB merupakan langkah awal yang penting sebelum pelaku usaha mengajukan sertifikasi halal.

    “Produk pengasapan ikan merupakan salah satu produk unggulan yang memiliki potensi pasar yang luas. Oleh karena itu, selain memiliki legalitas usaha, pelaku usaha juga perlu memahami pentingnya sertifikat halal sebagai jaminan mutu dan kepercayaan konsumen. Melalui kegiatan ini, kami berharap para pelaku usaha semakin siap memenuhi ketentuan Jaminan Produk Halal,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara Dinas Perikanan, DPMPTSP, dan BPJPH menjadi bentuk pelayanan terpadu yang memudahkan pelaku usaha memperoleh informasi sekaligus mengurus berbagai kebutuhan administrasi dalam satu kegiatan.

    Usai kegiatan fasilitasi di Kalibuntu, Kepala Balai Penyelenggara Jaminan Produk Halal, M. Fauzi, S.Ag., M.HI, beserta jajaran melanjutkan agenda dengan melakukan audiensi bersama Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo guna memperkuat koordinasi pelaksanaan Program Jaminan Produk Halal di daerah.

    Audiensi diterima oleh Kasubbag Tata Usaha Moh. Sa’dun, S.Ag.,M.Pd, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam M. Imamudin Nur Fajri, S.Ag.,M.HI, serta Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Moch. Sugianto, S.Kom. Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi antarinstansi dalam meningkatkan sosialisasi, pendampingan, dan percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha di Kabupaten Probolinggo.

    Melalui koordinasi yang semakin erat antara BPJPH, Pemerintah Kabupaten Probolinggo, dan Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, diharapkan semakin banyak pelaku usaha, khususnya sektor pengolahan hasil perikanan, yang memiliki legalitas usaha dan sertifikat halal sehingga mampu meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun global.

  • Pemkab Probolinggo Matangkan Regulasi Insentif Guru Pendidikan Keagamaan, Wujudkan Misi SAE Pendidikan

    Pemkab Probolinggo Matangkan Regulasi Insentif Guru Pendidikan Keagamaan, Wujudkan Misi SAE Pendidikan

    Kontributor : Ansori MP / Editor : Lutfi Hidayat

    KRAKSAAN, 23 juli 2026 — Pemerintah Kabupaten Probolinggo terus membuktikan komitmen nyatanya dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik keagamaan. Melalui bagian dari program prioritas visi-misi 2025–2029 (SAE Pendidikan), Pemkab Probolinggo menggelar Rapat Koordinasi Pembahasan Draf Peraturan Bupati (Perbup) tentang Pedoman Pemberian Insentif Guru Pendidikan Keagamaan di Kantor Bupati Probolinggo, Kraksaan, Kamis (23/7).

    Langkah strategis Pemerintah Kabupaten Probolinggo ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo. Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kab. Probolinggo menegaskan bahwa penyusunan Perbup ini menjadi payung hukum yang kuat sekaligus bentuk penghargaan atas dedikasi guru agama dalam membina karakter dan spiritualitas masyarakat.

    Rapat lintas sektor yang melibatkan BPPKAD, Bapelitbangda, Dinas Pendidikan, Bagian Hukum, Bagian Kesra, serta tokoh organisasi keagamaan ini bertujuan menyelaraskan aturan agar insentif dapat disalurkan secara tepat sasaran, berkeadilan, dan langsung dirasakan manfaatnya oleh para guru keagamaan.

    Visi SAE Pendidikan yang diusung oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo tidak sekadar berfokus pada pembangunan sarana fisik dan peningkatan mutu akademik, melainkan menempatkan pendidikan karakter keagamaan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Melalui program ini, pemerintah daerah bertekad menghadirkan ekosistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan bagi seluruh tenaga pendidik tanpa membeda-bedakan sektor formal maupun keagamaan.

    Dengan adanya regulasi khusus yang menjamin kesejahteraan dan insentif guru agama, Pemkab Probolinggo optimistis kualitas layanan pendidikan keagamaan di daerah akan terus meningkat. Kesejahteraan yang terjamin diharapkan mampu memotivasi para pendidik untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi moral, etika, dan nilai-nilai keagamaan yang kuat demi mewujudkan Kabupaten Probolinggo yang sejahtera dan berdaya saing.

  • Kemenag RI Luncurkan Aplikasi Aman, Bisa Laporkan Bullying dan Kekerasan Seksual

    Kemenag RI Luncurkan Aplikasi Aman, Bisa Laporkan Bullying dan Kekerasan Seksual

    Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat

    PROBOLINGGO, 23 Juli 2026 – Kementerian Agama RI meluncurkan Aplikasi Manajemen Aduan Antikekerasan (AMAN) untuk akses pelaporan dugaan kekerasan. Aplikasi ini dapat diakses melalui kanal “aman.kemenag.go.id“. Santri, siswa, orang tua, pendidik, maupun masyarakat dapat melaporkan dugaan kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun kekerasan di ruang digital.

    Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i dalam konferensi pers, menyampaikan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak di Kantor Badan Komunikasi RI, Jakarta. 

    “Kami menyiapkan Aplikasi Manajemen Aduan Antikekerasan (AMAN) sebagai kanal pelaporan dugaan kekerasan. Melalui aplikasi ini, santri, siswa, orang tua, pendidik, maupun masyarakat dapat melaporkan dugaan kekerasan fisik, seksual, maupun kekerasan di ruang digital,” ujar Wamenag, Rabu (22/07/2026).

    Selain “AMAN”, Kementerian Agama juga menyediakan layanan pengaduan digital TelePontren melalui WhatsApp di nomor 082226661854. Layanan berbasis chatbot ini memungkinkan pelapor menyampaikan aduan secara rahasia, aman, dan responsif melalui formulir digital yang telah disiapkan.

    “Pengguna cukup mengakses layanan chat TelePontren, memilih jenis aduan yang akan dilaporkan, masuk ke tautan formulir, kemudian mengirimkan laporan,” tambahnya.

    Tindaklanjut Setiap Laporan

    Seluruh laporan yang diterima, sambung Wamenag akan ditindaklanjuti melalui sanksi administratif terhadap satuan pendidikan maupun pengasuh, serta proses hukum terhadap pelaku sesuai ketentuan yang berlaku. Kementerian Agama juga memastikan korban mendapatkan pendampingan agar tetap dapat melanjutkan pendidikan dan memiliki harapan untuk masa depan.

    “Seluruh laporan yang masuk kami tindak lanjuti, baik melalui sanksi administratif terhadap satuan pendidikan tempat terjadinya peristiwa, maupun proses hukum terhadap para pelaku sesuai ketentuan yang berlaku. Yang tidak kalah penting adalah pendampingan kepada korban agar mereka dapat terus belajar dan tetap memiliki harapan untuk masa depan,” ungkap Wamenag.

    Wamenag mengatakan Kementerian Agama memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman. Saat ini, Kemenag membina 87.576 madrasah dengan 10.571.678 siswa serta 42.369 pesantren dengan 6.267.471 santri.

    “Dalam konteks ini, Kementerian Agama memiliki posisi yang sangat strategis. Seluruh satuan pendidikan tersebut harus dipastikan menjadi ruang yang aman dan nyaman dalam implementasi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak,” sambungnya.

    Pembekalan Pencegahan Kekerasan 4,5 Juta Siswa dan Santri Baru

    Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Agama juga memberikan edukasi antikekerasan kepada peserta didik baru. Pada tahun ajaran ini, sekitar 2,5 juta siswa baru madrasah dan 2 juta santri baru pesantren telah mendapatkan pembekalan mengenai pencegahan perundungan (bullying), kekerasan fisik, dan kekerasan seksual melalui kegiatan Masa Ta’aruf Madrasah (MATA MUDA) dan Masa Ta’aruf Santri (MATA Santri).

    “Pada masa penerimaan peserta didik baru madrasah dan santri baru pesantren tahun ini, sekitar 2,5 juta siswa baru madrasah dan 2 juta santri baru pesantren telah mendapatkan pembekalan mengenai pencegahan perundungan, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual melalui kegiatan Masa Ta’aruf Madrasah, maupun Masa Ta’aruf Santri,” tuturnya.

    Pemerintah Dorong Korban Berani Melapor

    Hadir dalam kesempatan itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno serta Deputi III Badan Komunikasi Kurnia Ramadhana. Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa meningkatnya jumlah laporan merupakan indikator tumbuhnya keberanian masyarakat untuk melapor, bukan semata-mata bertambahnya jumlah peristiwa kekerasan.

    “Karena itu, saat ini kami mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan apabila melihat atau mengalami tindak kekerasan. Hal ini bukan sesuatu yang mudah, terutama dalam konteks budaya kita dan terlebih lagi bagi anak-anak. Anak-anak sering kali tidak berani untuk speak up,” ujar Pratikno.

    Menurutnya, pemerintah terus memperkuat budaya pelaporan serta edukasi publik yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Upaya tersebut didukung sejumlah kebijakan lintas sektor, termasuk Surat Keputusan Bersama (SKB) tujuh menteri dan SKB sembilan menteri, guna memperkuat perlindungan anak di berbagai lingkungan.

    “Oleh sebab itu, kami memiliki program yang bertujuan membangun keberanian anak untuk menyampaikan apabila mereka melihat ataupun menjadi korban kekerasan,” tambahnya.

    Melalui penguatan kanal pelaporan, penanganan kasus, dan edukasi pencegahan, Kementerian Agama berharap seluruh madrasah dan pesantren menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensinya.

  • Implementasi Program SAE KESEHATAN, KUA dan Puskesmas Hadirkan Layanan Terpadu SEHAT KUAT

    Implementasi Program SAE KESEHATAN, KUA dan Puskesmas Hadirkan Layanan Terpadu SEHAT KUAT

    Kontributor : Aan. MP – Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat

    PROBOLINGGO, 21 Juli 2026 – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendukung implementasi Program Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo SAE KESEHATAN (Sejahtera, Amanah dan Eksis Berdaya Saing) dibidang kesehatan, Kantor Kementerian Agama melalui Seksi Bimas Islam dan Kantor Urusan Agama (KUA) berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas di 24 kecamatan menghadirkan inovasi pelayanan terpadu SEHAT KUAT (Layanan Skrining dan Pemeriksaan Kesehatan serta Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin KUA secara Terpadu).

    Inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini mengharuskan calon pengantin (catin) mengantre berjam-jam di Puskesmas untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu persyaratan perkawinan. Kini, melalui layanan SEHAT KUAT, skrining dan pemeriksaan kesehatan dilaksanakan secara langsung di lokasi penyelenggaraan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) KUA, sehingga calon pengantin memperoleh layanan kesehatan dan pembinaan perkawinan dalam satu rangkaian pelayanan yang terintegrasi.

    Seluruh layanan diberikan secara gratis (Rp0,-). Ini juga selaras dengan program Bupati Probolinggo dan visi pemerintah daerah untuk mewujudkan program SAE KESEHATAN yaitu menghadirkan pelayanan publik yang mudah diakses, efektif, efisien, serta berorientasi pada kepuasan masyarakat. Selain mempermudah proses administrasi, layanan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kesehatan pranikah sebagai fondasi dalam mewujudkan keluarga yang sehat, berkualitas, dan berketahanan.

    Selain menghadirkan SEHAT KUAT, KUA juga mengembangkan inovasi PILKUAT (Pelayanan Dukcapil dan KUA Terpadu). Melalui layanan ini, pasangan pengantin yang telah melaksanakan akad nikah dapat langsung memperoleh pembaruan dokumen administrasi kependudukan, seperti Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan status perkawinan yang telah diperbarui. Dokumen tersebut dapat diunduh secara digital melalui layanan Website Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, sehingga masyarakat memperoleh kemudahan akses secara cepat, akurat, dan terintegrasi.

    Sebagai bagian dari transformasi pelayanan berbasis digital, KUA juga menghadirkan POLING (Pojok Konseling), yaitu layanan konsultasi daring melalui website dan WhatsApp Center KUA. Layanan ini memberikan ruang konsultasi yang mudah diakses masyarakat terkait layanan perkawinan, pembinaan keluarga, maupun informasi keagamaan lainnya tanpa harus datang langsung ke kantor.

    Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, M. Imamuddin Nur Fajri, menegaskan bahwa berbagai inovasi tersebut merupakan implementasi nyata dari agenda strategis yang menjadi perhatian serius Kepala Kantor Kementerian Agama, Dr. Samsur, bersama Tim Pembangunan Zona Integritas (ZI) Kementerian Agama.

    “Transformasi pelayanan ini merupakan komitmen kami untuk menghadirkan layanan publik yang semakin cepat, mudah, terintegrasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara KUA, Puskesmas, dan Dukcapil menjadi bukti bahwa pelayanan pemerintah dapat diselenggarakan secara efektif melalui sinergi lintas sektor,” ujarnya.

    Menurut Imamuddin, inovasi layanan tersebut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi perkawinan, tetapi juga bertujuan mempersiapkan calon pengantin dari aspek kesehatan, kesiapan mental, dan ketahanan keluarga sebagai fondasi dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

    Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Kementerian Agama terus memperkuat reformasi birokrasi dan pembangunan Zona Integritas dengan menghadirkan pelayanan yang inovatif, adaptif, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Kehadiran SEHAT KUAT, PILKUAT, dan POLING diharapkan menjadi model pelayanan terpadu yang mampu meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan sejahtera sejak awal kehidupan berumah tangga.

  • Sambut HUT RI 2026, MUI Probolinggo Rilis Tausiyah; Imbau Maknai Kemerdekaan dengan Menjaga Moralitas Umat

    Sambut HUT RI 2026, MUI Probolinggo Rilis Tausiyah; Imbau Maknai Kemerdekaan dengan Menjaga Moralitas Umat

    Kontributor : Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat

    KRAKSAAN, 21 Juli 2026 – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada Agustus 2026, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo secara resmi mengeluarkan maklumat tausiyah kebangsaan.

    Langkah strategis ini diterbitkan sebagai pedoman bagi seluruh umat Islam dan elemen masyarakat di Kabupaten Probolinggo dalam mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan yang positif, bernilai spiritual, serta menjaga kondusivitas moral daerah.

    Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo, KH. Abdul Wasik Hannan menyampaikan bahwa momentum kemerdekaan tahun ini harus dijadikan sebagai sarana memperkuat kerukunan dan memperkokoh sinergi antara ulama dan umara (pemerintah).

    Hal ini sejalan dengan visi kepengurusan baru untuk membangun daerah yang lebih harmonis dan bermartabat. “Ada beberapa poin utama yang ditekankan oleh MUI Kabupaten Probolinggo dalam tausiyah menyambut HUT RI tahun 2026 ini. Sebagai manifestasi rasa syukur, umat Islam diimbau untuk memaknai kemerdekaan sebagai anugerah besar dari Allah SWT,” ungkapnya.

    Masyarakat diajak memperbanyak doa bersama, istighosah, dan tasyakuran di masjid-masjid atau musalla, bukan sekadar larut dalam euforia hiburan duniawi.

    Selanjutnya agar tetap menjaga moralitas dan norma sosial serta merespons maraknya persoalan sosial dan hiburan yang kerap melanggar norma kesopanan, MUI menegaskan agar panggung hiburan rakyat atau perlombaan “agustusan” tidak menampilkan tontonan yang tidak pantas, tidak mendidik, serta bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal.

    “Melalui semangat kemerdekaan ini, masyarakat diharapkan mendukung program-program pembangunan daerah demi mewujudkan Kabupaten Probolinggo yang maju, sejahtera, dan religius,” imbuhnya.

    Sementara itu, Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo, H. Yasin menambahkan bahwa tausiyah ini juga akan disosialisasikan secara masif ke tingkat kecamatan. MUI juga memanfaatkan momentum ini melalui masjid-masjid guna membentengi moral umat serta menangkal maraknya perilaku menyimpang di tengah masyarakat.

    “Melalui maklumat resmi ini, MUI Kabupaten Probolinggo berharap seluruh lapisan masyarakat, pemuda, dan panitia penyelenggara kegiatan HUT RI dapat mengindahkan imbauan tersebut. Tujuannya agar perayaan kemerdekaan tahun 2026 di Kabupaten Probolinggo dapat berjalan dengan khidmat, aman, meriah beradab dan penuh berkah, serta jauh dari hal-hal yang mengurangi nilai kesakralan perjuangan para pahlawan,” terang Yasin.

  • KUA dan Puskesmas Maron Sinergi Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin

    KUA dan Puskesmas Maron Sinergi Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin

    Kontributor : H. Ach. Noor Busthomi / Editor : Lutfi Hidayat

    MARON, 21 Juli 2026 – Upaya peningkatan kualitas kehidupan keluarga untuk mewujudkan keluarga yang sehat, harmonis, dan berkualitas dilakukan Kantor Urusan Agama (KUA) Maron, Kabupaten Probolinggo yang bersinergi dengan Puskesmas Maron dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) bagi para Calon Pengantin (Catin).

    Kegiatan ini dipimpin langsung Kepala KUA Maron, H. Moh. Amin, S.Ag., M.Pd., bersama para Penyuluh Agama Islam dan Penghulu setempat. Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi magang dari Kampus Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong Probolinggo, juga terlibat pada kegiatan tersebut sebagai bagian dari tugas kuliah praktek lapangan.

    Kolaborasi lintas sektor ini menjadi wujud komitmen bersama dalam memberikan pembekalan yang komprehensif kepada calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumahtangga.

    Moh. Amin menyampaikan, bimbingan perkawinan bukan hanya menjadi syarat administratif menjelang pernikahan, tetapi juga merupakan sarana edukasi untuk membangun kesiapan mental, spiritual, sosial, dan kesehatan bagi pasangan yang akan menikah.

    “Sinergi antara KUA dan Puskesmas diharapkan mampu mencetak keluarga sakinah, mawaddah, wa-rahmah dengan fisik, mental, dan spiritual yang sehat sehingga dapat melahirkan generasi yang berkualitas,” ujarnya.

    Materi keagamaan dan pembinaan keluarga disampaikan oleh Kepala KUA Maron bersama para Penyuluh Agama Islam dan Penghulu yang menekankan pentingnya membangun rumah tangga berdasarkan nilai-nilai agama, komunikasi yang baik, serta tanggung jawab suami – istri dalam kehidupan keluarga.

    Sementara itu, dari sektor kesehatan materi disampaikan oleh dr. Husen, M.Kes. dan Rumlah, A.Md. Keb. Keduanya memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, persiapan kehamilan, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sebagai langkah awal mewujudkan keluarga yang sehat.

    Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang umumnya akan dihadapi dalam kehidupan rumah tangga maupun aspek kesehatan keluarga.

    Melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan lintas sektor ini, KUA Maron bersama Puskesmas Maron berharap calon pengantin memiliki bekal yang memadai dalam membangun rumah tangga yang kokoh, harmonis, sehat, serta mampu melahirkan generasi yang unggul dan berdaya saing.

  • Perkuat Budaya Kerja dengan Literasi Data, ASN Kemenag Probolinggo Ikuti Breakfast Meeting Bersama Menag RI

    Perkuat Budaya Kerja dengan Literasi Data, ASN Kemenag Probolinggo Ikuti Breakfast Meeting Bersama Menag RI

    Kontributor/Editor : Tim Bimas Islam

    PROBOLINGGO, 21 Juli 2026 – Jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo mengikuti “Breakfast Meeting” bersama Menteri Agama Republik Indonesia secara virtual, Selasa pagi (21/07/2026). Forum strategis ini dimanfaatkan untuk memperkokoh komitmen pelayanan publik yang profesional, adaptif, serta berbasis data.

    Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur menegaskan pentingnya menindaklanjuti seluruh arahan Menteri Agama RI sebagai acuan dalam membenahi budaya kerja birokrasi di daerah.

    “Pengarahan dari Menteri Agama ini bukan sekadar penambah wawasan, melainkan ajakan nyata untuk melakukan pembaruan komitmen. ASN Kemenag dituntut memelihara integritas, mengasah kompetensi, dan terus berinovasi dalam melayani masyarakat,” tuturnya.

    Perubahan “Mindset” dan Mikromanajemen

    Dalam arahannya, Menteri Agama menekankan bahwa transformasi birokrasi tidak akan terwujud tanpa pergeseran pola pikir (mindset) dan budaya kerja (culture set). Menurutnya, keberhasilan instansi sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan individu dan kerapian tata kelola administrasi.

    Salah satu poin utama yang disoroti adalah penerapan prinsip mikromanajemen. Setiap pegawai didorong untuk mencatat agenda harian secara detail dan terukur, sebagai bahan evaluasi pribadi sekaligus pemacu produktivitas. Selain itu, peningkatan kapasitas mandiri juga menjadi perhatian agar ASN mampu memenuhi capaian angka kredit dan jenjang karir secara optimal.

    Prinsip “Datamu, Nasibmu” dan Pemanfaatan Media Digital

    Menteri Agama juga menggarisbawahi pentingnya tata kelola data yang akuntabel, baik data kuantitatif maupun kualitatif, termasuk kedisiplinan kehadiran. Prinsip “Datamu, Nasibmu” ditegaskan sebagai landasan bahwa data merupakan aset vital instansi. Setiap capaian kinerja hendaknya terdokumentasi secara rapi melalui data statistik, grafik, maupun dokumentasi visual.

    Di samping literasi data, kementerian juga mendorong penguatan jejaring dan publikasi di era digital. Seluruh unit kerja diharapkan aktif memanfaatkan kanal media sosial resmi untuk mengedukasi publik mengenai berbagai inovasi dan layanan yang diberikan setiap sektor Kementerian Agama.

    Komitmen Pelayanan Berdampak

    Menutup kegiatan tersebut, Dr. Samsur mengajak seluruh pegawai Kemenag Kabupaten Probolinggo untuk menerjemahkan arahan Menag RI ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

    “Dengan disiplin yang mantap, tata kelola berbasis data yang presisi, serta transparansi publikasi, kita optimistis kepercayaan masyarakat akan semakin menguat. Mari kita jadikan setiap pelayanan sebagai bentuk pengabdian yang berdampak nyata,” pungkasnya.

  • Puncak Supervisi KUA, Kemenag Probolinggo Tegaskan Komitmen Wujudkan Layanan Berdampak

    Puncak Supervisi KUA, Kemenag Probolinggo Tegaskan Komitmen Wujudkan Layanan Berdampak

    Kontributor : Muh. Hefni & Tim Redaksi / Editor : Lutfi Hidayat, Saiful Bahri

    Probolinggo (Selasa, 21/07/2026) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam melaksanakan puncak kegiatan Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi (Monev) Triwulan II bagi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sumberasih dan KUA Kecamatan Wonomerto. Kegiatan yang digelar secara terpadu tersebut berlangsung di KUA Sumberasih, Selasa (21/07/2026).

    Pelaksanaan monev ini menjadi penutup rangkaian supervisi Triwulan II yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah KUA di Kabupaten Probolinggo. Kegiatan difokuskan pada evaluasi pelaksanaan program, penguatan tata kelola layanan, serta peningkatan kualitas kinerja penghulu, penyuluh agama, dan seluruh jajaran KUA.

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua APRI Jawa Timur yang juga Kepala KUA Wonomerto definitif sekaligus Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala KUA Sumberasih, H. Wawan Ali Suhudi, menegaskan bahwa supervisi bukan sekadar agenda pemeriksaan administrasi, melainkan menjadi ruang pembinaan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    “Supervisi dan monitoring harus dimaknai sebagai ikhtiar bersama untuk terus memperbaiki kualitas layanan KUA. Administrasi yang tertib harus diiringi dengan pelayanan yang cepat, profesional, humanis, dan berdampak nyata bagi masyarakat. KUA harus menjadi rumah pelayanan keagamaan yang semakin dipercaya masyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, H. Imammuddin Nur Fajri,S.Ag., M.HI, menekankan pentingnya optimalisasi peran Penyuluh Agama Islam sebagai ujung tombak Kementerian Agama dalam menjaga ketahanan sosial dan keagamaan masyarakat.

    “Penyuluh Agama adalah garda terdepan Kementerian Agama. Selain memberikan pembinaan keagamaan, mereka juga memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi tentang Early Warning System (EWS). Kelompok-kelompok binaan harus terus diperkuat agar memiliki daya tahan terhadap berbagai paham yang menyimpang dan tidak mudah disusupi aliran-aliran yang mengarah pada radikalisme, khususnya di kalangan remaja,” tegasnya.

    Ia berharap seluruh penyuluh agama mampu mengintegrasikan materi EWS dalam setiap kegiatan penyuluhan, sehingga masyarakat semakin memiliki pemahaman keagamaan yang moderat, toleran, serta mampu menjaga kerukunan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Secara terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, M.Pd., menyampaikan bahwa supervisi dan monitoring merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas tata kelola organisasi sekaligus memastikan seluruh program prioritas Kementerian Agama berjalan efektif hingga ke tingkat KUA.

    “Saya berharap seluruh jajaran KUA terus memperkuat integritas, profesionalisme, dan semangat melayani masyarakat. Penyuluh agama, penghulu, serta seluruh ASN Kementerian Agama harus mampu menghadirkan pelayanan yang berdampak, menjaga kerukunan umat, serta menjadi garda terdepan dalam deteksi dini berbagai potensi persoalan sosial dan keagamaan melalui pendekatan Early Warning System,” ungkapnya.

    Melalui pelaksanaan Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi Triwulan II ini, Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola KUA yang profesional, akuntabel, dan adaptif, sekaligus meningkatkan kapasitas aparatur dalam memberikan pelayanan keagamaan yang berkualitas serta menjaga harmoni kehidupan masyarakat.