Kontributor : Lutfi Hidayat / Editor : Moh. Hefni M – Tim Bimas Islam
SUMBER, (04 Agustus 2026) – Udara dingin khas lereng Gunung Bromo yang menyelimuti Kecamatan Sumber tak mampu mengikis kehangatan persaudaraan yang terpancar di Selasa pagi (04/08/2026).
Di tengah kemeriahan masyarakat adat Tengger yang tengah merayakan Hari Raya Karo, para insan pendidikan Guru PAI di Kecamatan Sumber berkumpul melangkah bersama dalam sebuah agenda istimewa, mempererat tali silaturahmi antarumat beragama sekaligus memperkokoh profesionalisme pendidik.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang Pembinaan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dan guru kelas, tetapi juga panggung nyata indahnya toleransi di daerah berlatar belakang budaya yang kaya.
Hadir memimpin rombongan, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kemenag Kabupaten Probolinggo, Moch. Sugianto, S.Kom., M.M, Koordinator Wilayah (Korwil) Bidikdaya Kecamatan Sumber, Asis, M.Pd didampingi Pengawas Sekolah, Sugianto, M.Pd serta Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Bambang Hermanto, S.Pd bersama puluhan guru PAI dan guru kelas, mereka menyatukan langkah untuk merawat harmoni di wilayah pendidikan lereng Tengger.
Membuka Hari dengan Pembinaan dan Niat Suci
Pagi sekitar pukul 08.00 WIB, halaman Kantor Korwil Bidikdaya Kecamatan Sumber mulai dipadati para pendidik. Sebelum memulai safari silaturahmi, jajaran pimpinan memberikan arahan dan pembinaan singkat kepada para GPAI dan guru kelas.
Dalam pembinaannya, Kasi PAIS Kemenag Kabupaten Probolinggo, Moch. Sugianto, S.Kom., M.M, menekankan pentingnya peran guru sebagai teladan toleransi dan perekat sosial di masyarakat.
“Guru tidak hanya bertugas menyalurkan ilmu di dalam ruang kelas, tetapi juga hadir menjaga nilai-nilai luhur kebersamaan di tengah keberagaman tradisi lokal,” ujarnya.

Safari Kehangatan: Menelusuri Pandansari, Ledokombo hingga Argosari
Usai pembekalan, rombongan bertolak dari Kantor Korwil untuk memulai anjangsana atau kunjungan silaturahmi Karo. Rute perjalanan menyusuri jalanan berbukit yang hijau dan asri, mengunjungi kediaman para guru serta tokoh-tokoh masyarakat Tengger yang merayakan Karo.
Singgah di Desa Pandansari
Kunjungan pertama membawa rombongan menuju Desa Pandansari. Senyum hangat menyambut rombongan saat tiba di kediaman Ibu Gina dan Ratna. Di tempat ini, cengkerama penuh kekeluargaan tercipta, diiringi hidangan khas syukuran Hari Raya Karo yang disajikan penuh keikhlasan.
Melintas ke Desa Ledokombo
Perjalanan berlanjut menembus kabut tipis menuju Desa Ledokombo. Rombongan singgah di kediaman Ibu Imas dan Bapak Wandi. Tawa dan diskusi hangat menyelimuti ruang tamu, mencerminkan betapa eratnya jalinan persaudaraan antara pengawas, kepala sekolah, dan para guru tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Puncak Silaturahmi di Negeri Atas Awan, Desa Argosari
Tujuan teratas dari safari ini adalah Desa Argosari, salah satu desa tertinggi di kawasan lereng Tengger. Di desa ini, rombongan mengunjungi empat kediaman secara berurutan: Bapak Wido, Ibu Lilik, Ibu Yanti dan Bapak Ngatari.
Di tengah hembusan angin pegunungan, kunjungan ke rumah para tokoh dan guru di Argosari menjadi penutup safari yang berkesan. Sikap saling menghormati dan open house masyarakat Tengger menyajikan potret indah bagaimana tradisi lokal dapat berpadu harmonis dengan semangat kebangsaan dan pendidikan.
Menjaga Marwah Toleransi di Dunia Pendidikan
Hari Raya Karo bagi masyarakat adat Tengger adalah momentum penyucian diri, penghormatan kepada leluhur, serta perayaan keharmonisan. Kehadiran jajaran Korwil, pengawas, MKKS, dan GPAI dan para Penyuluh Agama Islam di Kecamatan Sumber dalam perayaan ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan di Kecamatan Sumber berdiri di atas fondasi inklusivitas yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan sekat dan status.
Melalui kegiatan safari Hari Raya Karo Suku Tengger ini, para pendidik di Kecamatan Sumber tidak hanya menjalankan tugas administratif pembinaan, tetapi juga merawat benteng pertahanan toleransi terbaik atas nama silaturahmi yang tulus dari hati ke hati.

Leave a Reply