Blog

  • Menyisir Wakaf Tertunggak, Mengawal Kampung Zakat; KUA Sukapura Meneguhkan Semangat “SAHABAT”

    Menyisir Wakaf Tertunggak, Mengawal Kampung Zakat; KUA Sukapura Meneguhkan Semangat “SAHABAT”

    Kontributor : Rodina Billah / Editor Tim Redaksi

    SUKAPURA, (3 Agustus 2026) — Kalender baru saja berganti halaman. Bagi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura, hari pertama pekan sekaligus awal bulan menjadi pintu masuk untuk menata kembali pekerjaan yang belum selesai. Data wakaf yang tertunggak diperiksa. Pengajuan Kampung Zakat 2026 diklarifikasi. Dua agenda itu bertemu di satu meja.

    Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain hadir di KUA Sukapura untuk mengecek data wakaf yang masih memerlukan tindak lanjut. Pemeriksaan bukan sekadar mencocokkan berkas. Ada administrasi yang perlu dirapikan, data yang harus dipastikan kembali, dan pekerjaan yang mesti didorong agar tidak berlarut menjadi tunggakan.

    KUA Sukapura menyambut proses tersebut sebagai bagian dari penguatan tata kelola layanan keagamaan. Data wakaf yang tertib menjadi fondasi penting bagi kepastian administrasi dan perlindungan aset wakaf. Di lapangan, persoalan wakaf tidak berhenti pada ikrar, tetapi berlanjut pada pencatatan, kelengkapan dokumen, hingga proses sertifikasi.

    Dari wakaf, pembicaraan bergerak menuju Kampung Zakat 2026. Pengajuan program itu kembali diklarifikasi untuk memastikan data, kesiapan, serta tindak lanjutnya berjalan pada jalur yang sama. Kampung Zakat tidak berhenti pada nama program. Ia menuntut pengelolaan potensi zakat yang terarah, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan manfaat bagi penerima.

    Di titik ini, peran penylyelenggara zakat dan wakaf bersama KUA Sukapura saling bertaut. Penyelenggara Zakat dan Wakaf membawa perspektif tata kelola zakat dan wakaf. KUA Sukapura menjadi simpul layanan yang dekat dengan masyarakat. Keduanya bertemu pada kebutuhan yang sama: data yang akurat, program yang jelas, dan tindak lanjut yang terukur.

    Semangat itu menemukan relevansinya dalam inovasi SAHABAT Kemenag, akronim dari Solusi Hadir Bagi Umat. Filosofi ini menempatkan kehadiran Kementerian Agama bukan semata sebagai institusi administratif, tetapi sebagai lembaga yang hadir untuk mencari solusi atas persoalan umat. Menyisir data wakaf yang tertunggak dan mengklarifikasi tindak lanjut Kampung Zakat 2026 menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, responsif, dan memberi manfaat.

    Bagi KUA Sukapura, semangat SAHABAT bukan sekadar jargon. Ia diterjemahkan melalui kerja-kerja yang mungkin tampak sederhana, tetapi berdampak panjang: memastikan data wakaf tidak tertinggal, mengawal program zakat, dan membuka ruang koordinasi untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.

    Awal Agustus pun dimulai dengan cara yang sederhana, tetapi penting: memeriksa kembali apa yang belum tuntas dan memastikan apa yang telah direncanakan memiliki pijakan yang jelas. Dari data wakaf yang tertunggak hingga pengajuan Kampung Zakat 2026, Yazid Zain dan KUA Sukapura menunjukkan bahwa SAHABAT —Solusi Hadir Bagi Umat— dapat tumbuh dari meja kerja, lalu bergerak menuju pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.

  • Menembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

    Menembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

    Kontributor : Alfun Naim / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    SUMBER, (03 Agustus 2026) – Di atas gumpalan kabut dan udara dingin pegunungan Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo tak menyurutkan derap langkah kaki menembus jalanan berliku untuk menenun benang-benang toleransi yang kian erat.

    Suasana Desa Wonokerso riuh berbalut khidmat. Warga adat suku Tengger tengah merayakan Hari Raya Karo, sebuah momentum suci tempat doa-doa keselamatan dipanjatkan dan tali persaudaraan dianyam kembali. Namun, ada pemandangan menarik yang menghangatkan ruang tamu warga lereng Tengger.

    Di antara lipatan kain batik dan sarung khas Tengger, hadir sosok Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sumber, Alfun Naim. Bukan untuk berdebat atau membawa sekat, melainkan untuk duduk sejajar, merawat keharmonisan di bumi multikultural ini.

    Kehangatan di Balik Pintu

    Langkah kaki sang penyuluh disambut senyum mengembang dari tuan rumah. Pintu-pintu kayu rumah warga Tengger terbuka lebar tanpa canggung. Di ruang tamu yang sederhana namun sarat keakraban, cangkir-cangkir kopi hangat dan aneka sajian khas Karo disuguhkan.

    “Perbedaan bukanlah sekat, melainkan perekat dalam menjalin silaturahmi serta memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah),” ungkap Naim.

    Gelak tawa dan dialog santai mengalir tanpa jarak. Kehadiran penyuluh agama Islam di tengah riuhnya ritual Karo menjadi bukti nyata bahwa moderasi beragama di lereng pegunungan Probolinggo ini bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan napas hidup sehari-hari. Ada rasa saling menghargai yang tulus terhadap tradisi dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun.

    Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian

    Perjalanan menuju Desa Wonokerso mungkin menuntut fisik yang tangguh karena medan pegunungannya, tetapi perjalanan spiritual dan kebudayaan di dalamnya jauh lebih menyentuh jiwa. Momen silaturahmi ini menegaskan betapa indahnya toleransi yang inklusif dan berkelanjutan saat semua pihak memilih untuk saling merawat, bukan meretakkan.

    Sinergi yang terjalin indah di balik kabut Desa Wonokerso ini bak oase. Keharmonisan masyarakatnya layak menjadi cermin teladan tentang bagaimana indahnya hidup berdampingan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Kabupaten Probolinggo.

    Satu hal yang tertinggal di Wonokerso: pesan damai bahwa di mana pun kaki dipijak, persaudaraan antarumat manusia akan selalu menemukan jalannya untuk hangat.

  • Belajar Tak Harus Tersekat Ruang Kelas: Ratusan Siswa Antusias Ikuti Outbound Training Pena Bangsa Juara

    Belajar Tak Harus Tersekat Ruang Kelas: Ratusan Siswa Antusias Ikuti Outbound Training Pena Bangsa Juara

    Kontributor : Khoirul Anam / Editor : Lutfi Hidayat

    LECES, (03 Agustus 2026) – Edukasi dan pembentukan karakter generasi muda saat ini tidak lagi sebatas bertumpu pada dinding-dinding ruang kelas. Memahami pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman nyata, Majelis Taklim Muslimah bekerja sama dengan Takmir Masjid Al Kautsar Leces Permai Probolinggo menggelar kegiatan bertajuk Outbound Training Pena Bangsa Juara.

    Kegiatan yang berlangsung semarak di objek wisata Taman dan Pemandian Ayu Rejeki tersebut diikuti oleh ratusan siswa-siswi dari lintas jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas. Para peserta terdiri dari siswa-siswi SD Sumber Kedawung, SMP Leces, serta SMA Leces.

    Sejak pagi, antusiasme peserta tampak tinggi. Pendampingan melekat dari para guru, panitia penyelenggara, hingga jajaran Takmir Masjid Al Kautsar turut mengawal jalannya seluruh rangkaian acara agar berlangsung kondusif dan penuh keceriaan.

    Penanaman Nilai Karakter Islami

    Hadir sebagai narasumber utama, Penyuluh Agama Islam KUA Sumber, Khoirul Anam, S.Pd memberikan sesi edukasi dan penanaman karakter Islami. Dalam pemaparannya, Khoirul menekankan dua pilar utama pembentukan moral peserta didik, yakni urgensi menuntut ilmu dan pentingnya sikap hormat serta patuh kepada orang tua dan guru.

    “Pendidikan karakter adalah pondasi utama. Pintar secara akademis saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan akhlakul karimah serta rasa hormat kepada orang tua dan pendidik yang telah membimbing mereka,” ujarnya.

    Tadabbur Alam Lewat Permainan Edukatif

    Usai menerima materi penguatan karakter dan menikmati santap siang bersama, kegiatan dilanjutkan dengan agenda tadabbur alam. Mengusung konsep permainan interaktif yang dirancang khusus oleh panitia, para siswa diajak untuk lebih mengenal dan menyatu dengan alam sekitar.

    Melalui berbagai permainan ketangkasan dan kerja sama tim, para peserta tidak hanya ditantang secara fisik dan mental, tetapi juga diajarkan nilai-nilai kebersamaan, kepemimpinan, kejujuran, serta kepedulian terhadap lingkungan.

    Langkah kolaboratif antara Majelis Taklim Muslimah dan Takmir Masjid Al Kautsar ini diharapkan dapat menjadi rujukan model edukasi luar ruang (outdoor learning) yang efektif, menyenangkan, sekaligus berbobot dalam menggembleng mentalitas dan akhlak generasi penerus bangsa.

  • KUA Bersama PAC Fatayat NU Tegalsiwalan Gelar Pembinaan Keluarga Sakinah

    KUA Bersama PAC Fatayat NU Tegalsiwalan Gelar Pembinaan Keluarga Sakinah

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    TEGALSIWALAN (02/08/2026) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tegalsiwalan bekerja sama dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Tegalsiwalan menggelar kegiatan Pembinaan Keluarga Sakinah di Balai Desa Sumberklidung, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh kader Fatayat NU dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga melalui pembinaan keagamaan.

    Kegiatan dihadiri Kepala KUA Kecamatan Tegalsiwalan, Ananto Pratikno, bersama Penyuluh Agama Islam Khomisun, jajaran PAC Fatayat NU Tegalsiwalan, serta masyarakat setempat. Pembinaan difokuskan pada penguatan nilai-nilai keluarga sakinah, peningkatan pemahaman hak dan kewajiban dalam rumah tangga, serta pentingnya membangun keluarga yang harmonis sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

    Kepala KUA Kecamatan Tegalsiwalan, Ananto Pratikno, dalam sambutannya menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang menentukan kualitas generasi mendatang. Menurutnya, pembinaan keluarga tidak cukup dilakukan saat menjelang pernikahan, tetapi harus terus diperkuat melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

    “Keluarga sakinah tidak terbentuk secara instan. Dibutuhkan komitmen, komunikasi yang baik, saling menghormati, serta landasan nilai-nilai agama dalam setiap dinamika kehidupan rumah tangga. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

    Dalam sesi materi, Penyuluh Agama Islam Khomisun menyampaikan bahwa keluarga sakinah dibangun melalui keseimbangan antara hak dan kewajiban suami istri, pendidikan agama dalam keluarga, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bijak sana melalui musyawarah.

    “Rumah tangga yang kokoh lahir dari pasangan yang saling menguatkan. Ketika nilai-nilai keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan komunikasi yang sehat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka keluarga akan menjadi tempat yang aman, damai, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia,” jelasnya.

    Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias melalui sesi penyampaian materi dan diskusi interaktif mengenai tantangan keluarga di era modern. Berbagai persoalan yang sering dihadapi keluarga, seperti komunikasi antarpasangan, pola pengasuhan anak, hingga penguatan ketahanan keluarga, menjadi topik pembahasan dalam forum tersebut.

    Melalui pembinaan ini, KUA Tegalsiwalan bersama PAC Fatayat NU berharap sinergi antara lembaga keagamaan, organisasi perempuan, dan masyarakat terus diperkuat sehingga lahir semakin banyak keluarga sakinah yang mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, memperkokoh ketahanan sosial, serta berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang religius, rukun, dan sejahtera.

  • Ribuan ASN Kemenag Jatim Padati Masjid Al Akbar, Gaungkan Harmoni Masjid untuk Perdamaian Dunia

    Ribuan ASN Kemenag Jatim Padati Masjid Al Akbar, Gaungkan Harmoni Masjid untuk Perdamaian Dunia

    Kontributor : Muh. Hefni / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    Surabaya (02/08/2026) – Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dalam kegiatan Istighosah dan Tabligh Akbar bertajuk “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace: Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026”, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus peneguhan komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat harmoni kehidupan beragama serta mendorong diplomasi keagamaan sebagai jalan menuju perdamaian dunia.

    Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, M.A., Gubernur Jawa Timur Dr. (H.C.) Khofifah Indar Parawansa, jajaran Polda Jawa Timur, Kodam V/Brawijaya, Forkopimda se-Jawa Timur, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, para rektor perguruan tinggi keagamaan, serta seluruh ASN Kementerian Agama se-Jawa Timur.

    Sejak siang, kawasan Masjid Al Akbar dipenuhi ribuan peserta yang mengikuti rangkaian istighosah, doa bersama, dan tabligh akbar. Kehadiran para tokoh agama, unsur pemerintah, serta aparat keamanan mencerminkan kuatnya sinergi lintas elemen dalam menjaga kerukunan umat beragama dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.

    Dalam sambutannya, Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis yang melampaui fungsi sebagai tempat ibadah.

    “Masjid harus menjadi pusat lahirnya peradaban, tempat tumbuhnya nilai kasih sayang, persaudaraan, dan dialog. Dari masjid, kita membangun diplomasi keagamaan yang mampu menghadirkan kedamaian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi teladan dunia dalam membangun harmoni kehidupan beragama, dan semangat itu akan kita bawa menuju International Grand Imams Conference 2026,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiyar, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi spiritual bagi seluruh ASN Kementerian Agama sekaligus memperkuat semangat pelayanan kepada masyarakat.

    “Kebersamaan ribuan ASN hari ini menunjukkan bahwa Kementerian Agama Jawa Timur memiliki tekad yang sama untuk menghadirkan pelayanan yang berintegritas, memperkuat moderasi beragama, dan menjadikan masjid sebagai pusat persatuan umat. Dari Jawa Timur, kita ingin mengirimkan pesan bahwa harmoni adalah fondasi utama menuju perdamaian dunia,” katanya.

    Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo turut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Kehadiran jajaran ASN Kemenag Kabupaten Probolinggo menjadi bentuk dukungan terhadap upaya memperkuat moderasi beragama dan membangun sinergi lintas sektor sebagaimana menjadi arah kebijakan Kementerian Agama.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bagi seluruh ASN untuk terus mengedepankan nilai-nilai keagamaan dalam menjalankan tugas.

    “Istighosah dan tabligh akbar ini memberikan energi spiritual bagi seluruh ASN agar tetap istiqamah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Semangat harmoni yang dibangun hari ini harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari memperkuat kerukunan umat, mengembangkan moderasi beragama, hingga membangun kolaborasi lintas elemen demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan bertema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” ini, Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan masjid sebagai pusat penguatan spiritual, pemberdayaan umat, dan diplomasi keagamaan. Semangat yang tumbuh dari Masjid Al Akbar Surabaya diharapkan menjadi pijakan menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu motor penggerak perdamaian dan kerukunan dunia.

  • Pimpin Rombongan ke Masjid Al-Akbar, Dr. Samsur Tegaskan Komitmen Kemenag dalam IGiC 2026

    Pimpin Rombongan ke Masjid Al-Akbar, Dr. Samsur Tegaskan Komitmen Kemenag dalam IGiC 2026

    Kontributor : Muh. Hefni (Inf) / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Redaksi

    SURABAYA, (2 Agustus 2026) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, menghadiri langsung rangkaian kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8).

    Kehadiran ini menegaskan komitmen kuat jajaran Kankemenag Kabupaten Probolinggo dalam mendukung penuh agenda diplomasi keagamaan Indonesia di kancah internasional.

    Tidak datang sendiri, Dr. Samsur memimpin rombongan dari Kabupaten Probolinggo sebanyak 250 orang ASN. Ia didampingi oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, para Kepala Seksi, Kepala dan Pengawas Madrasah, Kepala KUA, Penghulu, hingga Penyuluh Agama Islam untuk menyukseskan perhelatan yang dirangkai dengan Istighatsah dan Tabligh Akbar tersebut.

    Menurut Dr. Samsur, keterlibatan aktif ini merupakan langkah nyata daerah dalam mendukung penguatan peran imam dan fungsi masjid. “Imam dan masjid memiliki peran penting dalam membina umat, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya di sela-sela acara.

    Lebih lanjut, Dr. Samsur berharap nilai-nilai moderasi yang digaungkan dalam forum ini bisa diimplementasikan hingga tingkat akar rumput di Kabupaten Probolinggo. Ia mendorong terciptanya sinergi yang makin kokoh antara Kementerian Agama, ulama, imam masjid, serta masyarakat di daerahnya.

    Acara berskala besar ini juga dihadiri oleh Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang menyampaikan orasi ilmiah mengenai Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace. Di samping itu, hadir pula Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang memperkuat pesan persatuan bangsa.

    Melalui partisipasi aktif dalam menyongsong puncak IGIC 2026, Kankemenag Kabupaten Probolinggo berkomitmen terus memperkenalkan praktik keberagamaan Indonesia yang moderat, damai, dan inklusif. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan agama sebagai pilar utama dalam membangun kerukunan umat.

  • Menteri Agama RI: Masjid Harus Menjadi Pusat Kemanusiaan dan Pemberdayaan Umat

    Menteri Agama RI: Masjid Harus Menjadi Pusat Kemanusiaan dan Pemberdayaan Umat

    Kontributor : Ainun Najib / Editor : Lutfi Hidayat

    Surabaya, (2 Agustus 2026)– Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat kemanusiaan, pemberdayaan umat, serta penguatan persatuan dalam kehidupan masyarakat Islam. Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan tausiah dalam kegiatan Tabligh Akbar yang berlangsung khidmat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada 02/08/2026.

    Dalam ceramahnya, Menag mengawali dengan menjelaskan makna filosofis sujud sebagai simbol ketundukan total seorang hamba kepada Allah Swt. Menurutnya, sujud (sajada) merupakan bentuk penyerahan diri yang paling sempurna, ketika manusia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia, yaitu kepala, di atas tanah sebagai wujud kerendahan hati dan kepasrahan di hadapan Sang Pencipta.

    “Seorang sājid adalah pribadi yang mampu melepaskan diri dari kesombongan dunia dan mengabdikan seluruh kehidupannya kepada Allah Swt. Pada hakikatnya, seluruh ciptaan Allah senantiasa bertasbih kepada-Nya, meskipun manusia tidak memahami bahasa mereka,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa sejak masa Rasulullah saw., masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat pelaksanaan ibadah ritual. Masjid menjadi pusat pendidikan, pembinaan umat, musyawarah, hingga pelayanan sosial bagi masyarakat. Ia mencontohkan kedekatan sahabat Abu Hurairah dengan Masjid Nabawi sebagai gambaran bagaimana masjid menjadi pusat kehidupan umat Islam pada masa itu.

    Karena itu, Menag mengingatkan agar masjid tidak dijadikan sebagai ruang untuk menyebarkan provokasi maupun memecah belah persatuan umat. Sebaliknya, masjid harus menjadi tempat yang menghadirkan kedamaian, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan dan kasih sayang.

    Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyoroti pentingnya peran imam dalam kehidupan umat. Menurutnya, imam bukan hanya memimpin pelaksanaan salat, tetapi juga menjadi penghubung antara manusia dengan Allah Swt. sekaligus pembimbing yang mempersatukan jamaah.

    “Jangan pernah meremehkan imam, karena ia memegang peran penting dalam membimbing dan mempersatukan umat,” tegasnya.

    Menag menambahkan, seiring perkembangan zaman, fungsi masjid terus berkembang menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Selain menjadi pusat ibadah dan pembinaan umat, masjid juga dapat berperan sebagai pusat pelayanan masyarakat, seperti posko mudik, tempat perlindungan sementara, hingga pusat kegiatan sosial dan kemanusiaan.

    Mengakhiri tausiahnya, Menag mengajak seluruh umat Islam untuk terus memakmurkan masjid serta menjadikannya sebagai rumah kemanusiaan yang memuliakan setiap insan dan menjadi pusat lahirnya nilai-nilai kasih sayang, persatuan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.

    Kegiatan Tabligh Akbar tersebut berlangsung dengan penuh khidmat dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Momentum ini diharapkan semakin menguatkan komitmen bersama dalam mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban, pemberdayaan umat, dan pelayanan kemanusiaan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

  • Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan Antarumat Beragama Adalah Modal Utama Pembangunan

    Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan Antarumat Beragama Adalah Modal Utama Pembangunan

    JAKARTA, (1 Agustus 2026) — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kemajuan bangsa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, dan politik, melainkan juga berakar pada kekuatan doa, akhlak mulia, serta kerukunan antarsesama.

    Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Zikir dan Doa Kebangsaan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Acara yang dihadiri sekitar 100 ribu peserta dari pelbagai daerah dan latar belakang agama ini menjadi momentum ikhtiar batin untuk memperkuat pembangunan nasional.

    “Dengan zikir kita meneguhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi,” kata Menag dalam sambutannya.

    Menag mengapresiasi peran aktif para tokoh agama dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Hasilnya, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) mencatatkan kenaikan signifikan dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025.

    Capaian tersebut tidak hanya memecahkan rekor tertinggi, tetapi juga berhasil melampaui target RPJMN 2025 (76,47) dan makin mendekati target akhir 2029 sebesar 78,25.

    “Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita dipersatukan oleh cinta yang sama kepada Indonesia,” ujar Nasaruddin.

    Dalam kesempatan itu, Kemenag turut memaparkan sejumlah hasil kerja nyata dalam mendukung program prioritas pemerintah:

    • Sektor Pendidikan: Lebih dari 5,1 juta siswa menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), dan 289.255 mahasiswa keagamaan memperoleh KIP Kuliah. Selain itu, dilakukan revitalisasi pada 556 madrasah/sekolah keagamaan, pembangunan 352 madrasah, 34 PTKN, serta penyebaran 2.180 papan interaktif digital.

    • Inovasi & Lingkungan: Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta, serta program ekoteologi yang fokus pada penanaman pohon, pelestarian mangrove, dan terumbu karang.

    • Ekonomi Umat: Penghimpunan zakat tahun 2025 tumbuh 12% hingga mencapai Rp44,7 triliun (menjangkau 140 juta mustahik). Wakaf uang juga terhimpun sebesar Rp4,7 triliun, berdampingan dengan pengelolaan 50 ribu hektar tanah wakaf di seluruh Indonesia.

    Menag mengakhiri sambutannya dengan mengajak seluruh pimpinan dan tokoh agama menjadikan momentum zikir bersama ini sebagai energi spiritual untuk membawa Indonesia mencapai puncaknya.

  • Masih Merasa Aman Nikah Sirri? PAI Kua Paiton Kupas Tuntas Dampak Nikah Sirri

    Masih Merasa Aman Nikah Sirri? PAI Kua Paiton Kupas Tuntas Dampak Nikah Sirri

    Kontributor : KUA Paiton

    PAITON (31 Juli 2026) – Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya legalitas perkawinan terus gencar dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Paiton. Melalui kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Perkawinan dan Dampak Pernikahan Sirri yang digelar di Aula Puskesmas Jabungsisir, Kecamatan Paiton, pada Jumat, 31 Juli 2026.  Para peserta mendapatkan edukasi mengenai konsekuensi hukum maupun sosial dari praktik pernikahan sirri.

    Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari KUA Kecamatan Paiton, yakni Penyuluh Agama Islam Rusdi, S.H. dan Saiful Bahri, S.Hi.. Sosialisasi diikuti oleh 57 kader desa yang berasal dari wilayah kerja fasilitas kesehatan (Faskes) Jabungsisir. Kehadiran para kader diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencatatan perkawinan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Dalam pemaparannya, Rusdi menjelaskan bahwa KUA tidak hanya memberikan layanan pencatatan dan pendaftaran nikah, tetapi juga menyediakan berbagai layanan pembinaan masyarakat. Layanan tersebut meliputi bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, konsultasi keluarga, penyuluhan keagamaan, hingga berbagai pelayanan keagamaan lainnya yang bertujuan mewujudkan keluarga yang harmonis, berkualitas, dan memiliki kepastian hukum.

    Menurut Rusdi, masih adanya praktik pernikahan sirri di tengah masyarakat menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian bersama. Selain tidak tercatat secara administrasi negara, pernikahan sirri juga menimbulkan berbagai persoalan hukum yang dapat merugikan pihak istri maupun anak yang lahir dari perkawinan tersebut.

    “Dampak yang sangat parah akibat dari pernikahan sirri adalah hilangnya perlindungan hukum terhadap hak istri dan anak,” tegas Rusdi.

    Ia menjelaskan bahwa tanpa adanya pencatatan perkawinan yang sah, istri berpotensi mengalami kesulitan dalam menuntut hak-haknya apabila terjadi perselisihan, perceraian, maupun pembagian harta bersama. Sementara itu, anak juga dapat menghadapi berbagai hambatan administratif dan hukum, seperti dalam pengurusan dokumen kependudukan, hak waris, hingga perlindungan hukum lainnya.

    Sementara itu, narasumber lainnya, Saiful Bahri, S.Hi., menekankan pentingnya masyarakat sadar hukum terhadap Undang-Undang Perkawinan sebagai landasan dalam membangun keluarga yang tertib administrasi, memiliki kepastian hukum, serta mampu mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

    Melalui sosialisasi ini, KUA Kecamatan Paiton berharap para kader desa dapat menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing. Dengan pemahaman yang baik mengenai aturan perkawinan dan dampak negatif pernikahan sirri, para kader diharapkan mampu memberikan informasi yang benar kepada masyarakat sehingga kesadaran untuk melaksanakan perkawinan sesuai syariat dan ketentuan hukum negara semakin meningkat.

  • ‘ISHARI’ Menembus Badai Modernisasi Bersama Rahasia Terpendamnya

    ‘ISHARI’ Menembus Badai Modernisasi Bersama Rahasia Terpendamnya

    Kontributor : Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat

    TONGAS, (31 Juli 2026) – Suara tebukan rebana membahana, memecah hening malam di pelataran Pendapa Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis malam (30/07/2026).

    Ratusan Jemaah pria berbaju koko putih duduk rapi berbanjar. Ketika irama kian memuncak, tubuh-tubuh itu bergerak serempak—memiringkan bahu, mengayunkan tangan, dan menundukkan kepala dalam satu ritme penuh kidmat. Di tengah gemuruh vokal massal yang melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tercipta sebuah atmosfer spiritual yang begitu magis.

    Inilah budaya dan tradisi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia)—sebuah warisan mahakarya budaya dan spiritual yang tak sekadar bertahan, tetapi terus berdenyut kencang di tengah gelombang budaya lagu pop juga sound “Horeg”.

    Akar Spiritual dari Rahim Pesantren

    Lahir dari rahim tradisi pesantren Jawa Timur pada sekitar awal abad ke-20, ISHARI bukanlah sekadar pertunjukan seni pertunjukan biasa. Akar spiritualnya menancap kuat pada pembacaan kitab-kitab pujian klasik seperti Al-Barzanji.

    Bagi para ulama terdahulu, kesenian ini adalah metode dakwah kultural yang sangat cerdas.

    Di zaman ketika masyarakat membutuhkan pendekatan yang luwes, musik dan gerak tubuh dirajut menjadi jembatan emosional. Tanpa mengikis esensi religius, keindahan irama dan kebersamaan digunakan untuk merangkul masyarakat luas.

    Gerakan yang awalnya tumbuh secara sporadis tak ada komando di pelosok-pelosok desa ini, kemudian menemukan bentuk formalnya. Di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), gerakan seni ini terwadahi secara resmi dalam wadah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), menegaskan posisinya sebagai benteng kebudayaan Islam Nusantara.

    Simfoni Gerak, Ketukan, dan Harmoni Massal

    Daya pikat utama ISHARI yang membuatnya terus memikat lintas generasi terletak pada struktur penampilannya yang unik dan kolosal sangat tradisional (jauh dari modernitas). Setiap pertunjukan adalah perpaduan antara ketangkasan fisik, keahlian bermusik, dan kedalaman spiritual berdimensi tasawuf.

    Ketukan Rebana yang bertenaga dalam setiap penampilan ISHARI memiliki tempo konstan, cepat, dan penuh energi. Ketukan ini menjadi “jantung” yang memandu alur Sholawat sekaligus mengomandoi setiap gerakan.

    Gerakan Roddat merupakan gerakan tangan, bahu, dan kepala yang sinkron bukan sekadar koreografi, melainkan lambang kekompakan, kedisiplinan, serta keteguhan iman yang kokoh.

    Harmoni penabuh rebana dan penggerak roddat memadukan dialog vokal antara pelantun utamadan paduan suara massal yang menghadirkan simfoni vokal menggetarkan dada siapa pun yang mendengarkannya.

    Mengapa ISHARI Tak Meredup Dijalan Zaman?

    Di era ketika hiburan digital dan musik modern mendominasi layar kaca dan gawai generasi muda, ISHARI justru membuktikan ketahanannya. Ada tiga pilar utama yang menjadi rahasia kelanggengan seni tradisi ini:

    Kaderisasi Berbasis Organik: Regenerasi ISHARI tidak bergantung pada institusi formal yang kaku, melainkan mengalir alami di pesantren, madrasah, dan majelis taklim di hampir seluruh pelosok di Jawa Timur. Sejak usia dini, para santri telah diakrabkan dengan ketukan terbang dan bait-bait Sholawat.

    Nilai Komunal Tanpa Sekat: Dalam barisan ISHARI, tidak ada panggung hierarkis yang memisahkan penampil senior dan junior. Semua duduk sejajar di atas alas yang sama, meleburkan ego individu dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).

    Keteguhan Budaya: Tanpa mengorbankan kesucian esensinya, ISHARI kini hadir secara inklusif. Seni ini kerap menghiasi festival kebudayaan megah, panggung perayaan warga, hingga peringatan hari besar nasional, menjadikannya tetap relevan dan dibanggakan oleh generasi muda urban.

    Jadi Benteng Spiritual Nusantara

    ISHARI adalah bukti hidup bahwa seni tradisional tidak harus punah digilas roda zaman. Ia bukan fosil kebudayaan yang hanya disimpan di museum, melainkan tradisi bernapas yang terus dirawat oleh masyarakatnya.

    Selama denyut nadi selawat masih berhembus dan semangat kebersamaan terus dijaga, gemuruh rebana ISHARI akan senantiasa menjadi benteng budaya dan spiritual yang tak tergoyahkan di tanah Nusantara.