Author: KUA Sukapura

  • KUA “JEMPOL” Bergerak, Penyuluh Antar SKT Majelis Taklim Langsung ke Masyarakat

    KUA “JEMPOL” Bergerak, Penyuluh Antar SKT Majelis Taklim Langsung ke Masyarakat

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Lutfi Hidayat – Timred Bimas Islam

    SUKAPURA, 02 September 2026 – Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu masyarakat datang ke kantor. Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura terus mendorong pola pelayanan yang lebih dekat, mudah, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat melalui KUA JEMPOL (Jemput Bola).

    Semangat tersebut diwujudkan oleh tiga Penyuluh Agama KUA Kecamatan Sukapura, Syafi’i, S.Pd.I., Ainur Ridho, S.Pd.I., dan Rodinabillah, S.H., yang turut mengantarkan secara langsung Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Majelis Taklim kepada masyarakat.

    Tiga Majelis Taklim yang mendapatkan layanan tersebut yakni Majelis Taklim Nurul Hikmah Assoleh, Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura, binaan Ibu Nyai Halimatus Sa’diyah; Majelis Taklim Nurul Huda, binaan Ibu Nyai Marfu’ah; serta Majelis Taklim Al Islah Sukapura, binaan Bapak H. Harminto.

    Ketiganya menjadi bagian dari target pelayanan KUA Kecamatan Sukapura untuk mendorong penerbitan tiga SKT Majelis Taklim setiap bulan. Target tersebut dikawal bersama oleh para Penyuluh Agama sebagai bentuk penguatan pelayanan sekaligus pendampingan kelembagaan Majelis Taklim di wilayah Kecamatan Sukapura.

    Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., menjelaskan bahwa target tiga SKT setiap bulan bukan semata-mata berorientasi pada capaian administrasi. Lebih dari itu, target tersebut diharapkan menjadi pemantik agar Penyuluh Agama semakin aktif melakukan pendataan, pendampingan, dan pelayanan kepada Majelis Taklim.

    “Target tiga SKT Majelis Taklim setiap bulan merupakan bagian dari ikhtiar agar pelayanan kepada Majelis Taklim terus bergerak. Penyuluh tidak hanya mendampingi proses administrasinya, tetapi juga memastikan layanan tersebut benar-benar sampai dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

    Pengantaran SKT secara langsung menjadi salah satu bentuk nyata dari KUA JEMPOL. Masyarakat yang telah menyelesaikan proses pelayanan tidak harus selalu kembali ke kantor untuk mengambil dokumen. Penyuluh Agama dapat hadir langsung di tengah masyarakat untuk menyerahkan dokumen tersebut.

    Di sinilah KUA JEMPOL bertemu dengan semangat KUA berSAHABAT (Solusi Hadir Bagi Umat). Jika JEMPOL menggambarkan cara KUA memberikan pelayanan melalui gerakan jemput bola, maka berSAHABAT menjadi ruh pelayanan: menghadirkan solusi, membangun kedekatan, dan memberikan kemudahan bagi umat.

    Bagi Majelis Taklim, SKT merupakan bagian dari tertib administrasi dan penguatan kelembagaan. Sementara bagi KUA, proses tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dengan para pengelola Majelis Taklim dan memperkuat pembinaan keagamaan di masyarakat.

    Bagi Penyuluh Agama, pelayanan ini juga menjadi bagian dari peran mereka sebagai ujung tombak layanan keagamaan. Syafi’i, S.Pd.I., Ainur Ridho, S.Pd.I., dan Rodinabillah, S.H., tidak hanya hadir melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan, tetapi juga mengambil bagian dalam memastikan masyarakat mendapatkan akses pelayanan KUA secara lebih mudah.

    Tiga SKT dalam sebulan akhirnya bukan sekadar angka target. Ia menjadi ukuran sederhana dari sebuah gerakan pelayanan: berapa banyak kelembagaan keagamaan yang berhasil didampingi, berapa banyak masyarakat yang terbantu, dan sejauh mana KUA mampu hadir lebih dekat dengan umat.

    Dengan demikian, KUA JEMPOL dan KUA berSAHABAT berjalan dalam satu tarikan napas. JEMPOL menjadi gerakannya, sementara berSAHABAT menjadi jiwanya. Dari kantor menuju masyarakat, KUA Sukapura berikhtiar memastikan bahwa pelayanan bukan hanya selesai di atas kertas, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi bagi umat.

  • KUA “JEMPOL” Turun ke Sekolah, Penyuluh Sukapura Berantas Buta Huruf Qur’an

    KUA “JEMPOL” Turun ke Sekolah, Penyuluh Sukapura Berantas Buta Huruf Qur’an

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Lutfi Hidayat – Timred Bimas Islam

    SUKAPURA, 02 September 2026 – Menjemput kebutuhan umat hingga SDN 1 Sapikerep, wujud nyata KUA ber’SAHABAT’: Solusi Hadir Bagi Umat.

    Upaya pengentasan buta huruf Al-Qur’an terus dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Tidak hanya menunggu masyarakat datang ke kantor, layanan pembinaan dilakukan secara langsung melalui JEMPOL (Jemput Bola).

    Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Sukapura, Syafi’i, S.Pd.I., Ainur Ridho, S.Pd.I., dan Rodinabillah, S.H., hadir di SDN 1 Sapikerep untuk memberikan pembinaan dan pendampingan kepada peserta didik dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.

    Program ini menjadi bagian dari komitmen KUA berSAHABAT (Solusi Hadir Bagi Umat). Konsep tersebut menempatkan Penyuluh Agama sebagai pelayan masyarakat yang aktif hadir di tengah kebutuhan umat, termasuk dalam penguatan literasi Al-Qur’an bagi generasi muda.

    Pembinaan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan. Untuk memastikan proses berjalan secara berkelanjutan, telah disiapkan jadwal pembinaan rutin setiap hari Rabu dan Kamis, pukul 13.00 sampai 14.00 WIB. Waktu tersebut menjadi ruang khusus bagi peserta didik untuk mendapatkan bimbingan secara lebih terarah dan berkesinambungan.

    Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., mendukung langkah tersebut. Menurutnya, pengentasan buta huruf Al-Qur’an membutuhkan pendekatan yang konsisten dan kedekatan dengan masyarakat.

    “Penyuluh harus hadir di tempat masyarakat membutuhkan. Sekolah merupakan salah satu ruang strategis untuk menanamkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus membangun kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an,” ujarnya.

    Melalui layanan JEMPOL, KUA Sukapura berupaya mengubah pola pelayanan dari sekadar menunggu menjadi aktif mendatangi sasaran. Sementara semangat berSAHABAT memastikan kehadiran tersebut tidak berhenti pada seremonial, tetapi berlanjut dalam bentuk pembinaan yang terjadwal.

    Pembinaan setiap Rabu dan Kamis pukul 13.00–14.00 WIB diharapkan menjadi langkah kecil yang konsisten untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Bagi KUA Sukapura, memberantas buta huruf Al-Qur’an bukan sekadar program. Ia adalah bentuk nyata pelayanan keagamaan: datang, membina, mendampingi, dan memastikan umat tidak berjalan sendirian.

  • KUA Sukapura Juara 1, Persaudaraan Antarinstansi Jadi Kemenangan Bersama

    KUA Sukapura Juara 1, Persaudaraan Antarinstansi Jadi Kemenangan Bersama

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Muh. Hefni M – Tim Bimas Islam

    Sukapura, Kamis 27 Agustus 2026 — Forkopimcam Sukapura menggelar jalan sehat dan aneka lomba kemerdekaan. Sejenak tanpa sekat pekerjaan dan rivalitas, pegawai antarinstansi bertemu sebagai sesama anak bangsa.

    Kegiatan yang digelar Forkopimcam Sukapura ini diikuti berbagai unsur pelayanan masyarakat. Hadir KUA Kecamatan Sukapura, Polsek Sukapura, Koramil Sukapura, Puskesmas Sukapura, jajaran pegawai Kecamatan Sukapura, serta ibu-ibu kader PLKB. Mereka membaur dalam suasana penuh keakraban.

    Jalan sehat menjadi pembuka kegiatan. Setelah itu, peserta mengikuti berbagai perlombaan yang sederhana, menarik, dan mengundang tawa. Ada lomba memindahkan air, pukul paku estafet, tiup gelas estafet, memasukkan paku ke dalam botol, hingga susun kaleng.

    Setiap tim terdiri dari lima orang. Kekompakan, komunikasi, dan kerja sama menjadi kunci. Tidak jarang strategi yang sudah disusun justru berakhir dengan tawa. Peserta saling menyemangati, sementara penonton memberikan tepuk tangan dan sorakan.

    Dari rangkaian perlombaan tersebut, KUA Kecamatan Sukapura berhasil meraih Juara 1. Juara 2 diraih Kecamatan Sukapura, sedangkan Juara 3 diraih Puskesmas Sukapura.

    Meski ada perlombaan dan penentuan juara, suasana tetap terasa akrab. Tidak ada rivalitas yang berlebihan. Kemenangan satu tim justru disambut dengan kegembiraan bersama.

    Camat Sukapura, Nur Rachmad Sholeh, S.STP., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarinstansi.

    «“Kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan upacara. Kebersamaan seperti ini juga penting. Kita bisa saling mengenal lebih dekat, membangun kekompakan, dan memperkuat hubungan antarinstansi,” ujarnya.»

    Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., menyampaikan rasa syukur atas capaian timnya. Namun, menurutnya, kemenangan bukanlah tujuan utama.

    “Juara satu tentu membanggakan. Tetapi yang lebih penting adalah kebersamaan. Hari ini kita bisa berkumpul tanpa sekat pekerjaan dan tanpa persaingan. Kita bermain dan tertawa bersama sebagai keluarga besar Kecamatan Sukapura,” katanya.

    Kegiatan ini menunjukkan bahwa sinergi tidak selalu harus dibangun melalui rapat atau urusan kedinasan. Kebersamaan juga dapat tumbuh dari kegiatan sederhana yang mempertemukan orang-orang dalam suasana santai.

    Untuk sesaat, tugas, jabatan, target, dan kesibukan pekerjaan diletakkan di luar arena. Pegawai Kecamatan, KUA, Polsek, Koramil, Puskesmas, dan kader PLKB hadir sebagai sesama warga yang ingin menikmati kemerdekaan.

    KUA Sukapura pulang membawa Juara 1, Kecamatan Sukapura Juara 2, dan Puskesmas Sukapura Juara 3. Namun, semua peserta membawa pulang sesuatu yang lebih berharga: tawa, keakraban, dan rasa persaudaraan.

    Sebab dalam perlombaan, juara memang berbeda. Tetapi dalam persaudaraan, semua adalah pemenang. Semangat itulah yang membuat kemerdekaan terasa lebih dekat: ketika sesama anak bangsa dapat berkumpul tanpa sekat, saling menghargai, dan merayakan Indonesia bersama.

  • “Laulaka laulaka ya Muhammad, ma khalaqtul aflak” Khutbah Penyuluh Agama Sukapura semarakkan Syi’ar Bulan Maulid

    “Laulaka laulaka ya Muhammad, ma khalaqtul aflak” Khutbah Penyuluh Agama Sukapura semarakkan Syi’ar Bulan Maulid

    Kontributor : Rodina Billah | Tim redaksi Bimas Islam

    Sukapura, (14 Agustus 2026) — Syiar Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW menggema dari sejumlah masjid di Kecamatan Sukapura pada Jumat, 14 Agustus 2026. Penyuluh Agama Kecamatan Sukapura mengisi khutbah Jumat dengan mengangkat tema tentang bagaimana umat Islam mensyukuri kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW.

    Tiga Penyuluh Agama hadir di sejumlah mimbar masjid. Syafi’i, S.Pd.I menyampaikan khutbah di Masjid Nurul Fatah Sapikerep, Rodinabillah, S.H. di Masjid Baitur Ridwan Sukapura, dan Ainur Ridho, S.Pd.I di Masjid Watulumpang.

    Dalam khutbahnya, penyuluh agama mengajak jamaah menjadikan Bulan Maulid bukan sekadar momentum perayaan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan tersebut diwujudkan dengan memperbanyak selawat, mempelajari sirah Nabi, meneladani akhlaknya, serta mengamalkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

    Salah satu pesan yang disampaikan mengangkat Hadits Qudsi, “Laulaka laulaka ya Muhammad, ma khalaqtul aflak”, yang secara populer dimaknai, “Andai bukan karena engkau, wahai Muhammad, tidaklah Aku menciptakan alam semesta.”

    Hadits Qudsi tersebut menjadi pengantar untuk menggambarkan kemuliaan Rasulullah SAW sekaligus mengajak jamaah memperdalam rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah Islam.

    Penyuluh Agama juga menekankan bahwa rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan Maulid secara seremonial. Lebih dari itu, umat perlu menghadirkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, seperti kejujuran, kasih sayang, kesabaran, kepedulian, serta menjaga persaudaraan.

    Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., mengapresiasi keaktifan para Penyuluh Agama dalam menjalankan tugas dan mengambil peran dalam syiar keagamaan di tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran penyuluh di tengah umat merupakan bagian penting dari tugas kepenyuluhan, terlebih dalam momentum keagamaan seperti Bulan Maulid.

    “Kami sangat mengapresiasi keaktifan para Penyuluh Agama Kecamatan Sukapura. Mereka tidak hanya hadir menjalankan tugas administratif, tetapi juga aktif turun ke tengah masyarakat, mengisi mimbar, memberikan bimbingan, dan menguatkan syiar keagamaan. Semoga semangat ini terus dijaga dan ditingkatkan,” ungkap Muhammad Arif Rahman Hakim.

    Ia berharap momentum Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk semakin mendekatkan masyarakat kepada Rasulullah SAW serta mendorong lahirnya kehidupan umat yang semakin berakhlak.

    Melalui khutbah Jumat tersebut, para Penyuluh Agama Kecamatan Sukapura menunjukkan bahwa mimbar masjid dapat menjadi ruang strategis untuk menyemarakkan syiar Islam. Pesan Maulid tidak berhenti pada kisah kelahiran Nabi, tetapi diarahkan untuk membangkitkan kecintaan umat sekaligus menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

    Dari mimbar Masjid Al Hidayah, Masjid Baitur Ridwan, dan Masjid Watulumpang, syiar itu kembali digaungkan: mencintai Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan mengenang kelahiran beliau, tetapi juga dengan berusaha mengenal, meneladani, dan menghidupkan sunnahnya.

  • Santri Tetap Mengaji hingga Usia Menikah, LPQ Sunan Kalijaga Punya Cara Layak Ditiru

    Santri Tetap Mengaji hingga Usia Menikah, LPQ Sunan Kalijaga Punya Cara Layak Ditiru

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    SUKAPURA, (12 Agustus 2026) – Di tengah tantangan Gen Z yang banyak mulai meninggalkan aktivitas mengaji setelah masuk jenjang sekolah menengah pertama, LPQ Sunan Kalijaga, Kecamatan Sukapura justru mampu menjaga santri tetap dekat dengan Al-Qur’an hingga usia menikah melalui pembinaan, motivasi, dan kepedulian terhadap masa depan mereka.

    Hal itu terungkap saat Penyuluh Agama Islam KUA Sukapura melakukan monitoring terhadap Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin). Penyuluh Agama Islam menemukan sebuah praktik yang baik dan menarik di LPQ Sunan Kalijaga Sukapura. Rata-rata santri di lembaga tersebut tetap mengaji hingga memasuki usia menikah.

    Fenomena ini terbilang istimewa, di tengah tantangan generasi Z saat ini tidak sedikit anak yang mulai meninggalkan kegiatan mengaji dan disibukkan dengan kegiatan sekolah, pergaulan, perkembangan teknologi, dan aktivitas lainnya membuat sebagian santri tidak lagi melanjutkan pendidikan Al-Qur’an secara rutin.

    Dalam sesi diskusi dengan Penyuluh Agama Islam, Ustadz Suprianto menjelaskan bahwa pembinaan santri tidak berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an. Ketika santri mulai beranjak dewasa, dirinya tetap memberikan motivasi sekaligus perhatian terhadap perkembangan kehidupan mereka.

    Menariknya, perhatian tersebut juga diwujudkan dengan membantu mencarikan peluang pekerjaan bagi santri yang telah dewasa. Ketika ada kebutuhan tenaga, santri diarahkan untuk mengisi peluang sebagai sukarelawan, guru honorer, maupun pekerjaan di instansi swasta dan pemerintah sesuai kesempatan yang tersedia.

    Pendekatan tersebut ternyata mampu membangun ikatan yang kuat antara santri dengan lembaga. Mereka tidak hanya merasa sebagai peserta didik yang datang untuk belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga merasa diperhatikan perjalanan hidupnya.

    Dampaknya terlihat dari keberlangsungan kegiatan mengaji, para santri tetap bersemangat datang dan belajar Al-Qur’an hingga mereka menikah. Setelah menikah, sebagian kemudian berhenti mengikuti kegiatan secara rutin dan melanjutkan mengaji secara mandiri di rumah.

    Bagi Penyuluh Agama Islam KUA Sukapura, pengalaman LPQ Sunan Kalijaga merupakan praktik baik yang layak ditiru. Monitoring LPQ dan Madin tidak hanya menjadi kegiatan untuk melihat proses pembelajaran, tetapi juga menjadi kesempatan menemukan pola pembinaan yang berhasil diterapkan masyarakat.

    Pengalaman Ustadz Suprianto memberikan pelajaran bahwa menjaga generasi muda tetap dekat dengan Al-Qur’an membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Santri perlu diajari membaca Al-Qur’an, tetapi juga perlu dimotivasi, diperhatikan, dan didampingi dalam menghadapi masa depan.

  • Asta Protas Kemenag: Khutbah Jumat KUA Sukapura Perkuat Moderasi Beragama di Bromo

    Asta Protas Kemenag: Khutbah Jumat KUA Sukapura Perkuat Moderasi Beragama di Bromo

    Kontributor : Rodina Billah / editor Tim Redaksi

    SUKAPURA (7 Agustus 2026) — Penguatan moderasi beragama tidak hanya dilakukan melalui forum pembinaan formal. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura hadir langsung di tengah masyarakat melalui khutbah Jumat di sejumlah masjid di kawasan lereng Gunung Bromo.

    Kehadiran Kepala KUA dan Penyuluh Agama menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan layanan keagamaan yang dekat dengan umat. Melalui mimbar Jumat, pesan-pesan keislaman disampaikan dengan mengedepankan keseimbangan, persaudaraan, toleransi, kepedulian sosial, dan pentingnya menjaga kerukunan.

    Pada pelaksanaan khutbah Jumat tersebut, Kepala KUA Kecamatan Sukapura Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., mengisi khutbah di masjid kawasan Sky Bridge (Jembatan Kaca) Bromo. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan keagamaan di kawasan strategis lereng Bromo.

    Di wilayah lainnya, Penyuluh Agama Syafi’i, S.Pd.I., melaksanakan khutbah Jumat di Masjid Baitur Rohman, Punjul, Desa Wonokerto. Penyuluh Agama Rodinabillah, S.H., menyampaikan khutbah di Masjid Nurul Huda, Desa Ngepung, sedangkan Penyuluh Agama Ainur Ridho, S.Pd.I., mengisi khutbah di Masjid Al Hikmah.

    Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kehadiran KUA dalam menjalankan tugas pembinaan dan pelayanan keagamaan kepada masyarakat. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang strategis untuk menyampaikan pesan keagamaan yang relevan dengan kehidupan umat.

    Langkah tersebut sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya program Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan. Melalui penguatan moderasi beragama, masyarakat diharapkan mampu menjalankan ajaran agama secara seimbang, menghargai perbedaan, serta menjaga persaudaraan dan harmoni sosial.

    Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., menegaskan pentingnya kehadiran KUA di tengah masyarakat.

    “KUA harus hadir di tengah masyarakat. Khutbah Jumat menjadi salah satu ruang untuk memberikan penguatan keagamaan sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kerukunan dan persaudaraan,” ujarnya.

    Dari mimbar-mimbar masjid di lereng Bromo, pesan moderasi beragama diharapkan tidak berhenti sebagai materi khutbah. Nilai tersebut diharapkan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kerukunan.

    Khutbah Jumat menjadi salah satu bentuk pengabdian KUA Sukapura dalam menghadirkan layanan keagamaan yang dekat, nyata, dan bermanfaat bagi masyarakat lereng Gunung Bromo.

  • Dedikasi Penyuluh Agama; Komitmen Integritas  ASN

    Dedikasi Penyuluh Agama; Komitmen Integritas ASN

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

    SUKAPURA (5 Agustus 2026) — Waktu menunjukkan pukul 16.31 WIB. Ketika sebagian aktivitas perkantoran telah berakhir, tiga Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sukapura, Rodinabillah, S.H., Syafi’i, S.Pd.I., dan Ainur Ridho, S.Pd.I., mereka masih berada di kaki gunung Bromo untuk melaksanakan monitoring Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin), sekaligus menggaungkan Gerakan MAHAR (Mari Hindari Gratifikasi) sebagai bagian dari penguatan budaya integritas di lingkungan Kementerian Agama.

    Monitoring dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran, administrasi kelembagaan, serta layanan pendidikan keagamaan di LPQ dan Madin berjalan dengan baik. Selain melakukan pendampingan, para penyuluh juga berdialog dengan para pengelola dan tenaga pendidik guna menyerap aspirasi serta memberikan solusi atas berbagai kebutuhan lembaga.

    Para penyuluh ini mengajak seluruh pengelola LPQ dan Madin untuk mendukung Gerakan MAHAR. Sosialisasi tersebut menegaskan bahwa setiap bentuk pelayanan kepada masyarakat harus dilandasi nilai kejujuran, profesionalisme, akuntabilitas, serta bebas dari praktik gratifikasi.

    Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., mengapresiasi dedikasi para penyuluh yang tetap menjalankan tugas pembinaan hingga sore hari. Menurutnya, kehadiran penyuluh di tengah masyarakat merupakan wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan pelayanan yang tidak hanya administratif, tetapi juga menyentuh langsung kebutuhan umat.

    Ia menambahkan, Gerakan MAHAR harus menjadi budaya kerja seluruh insan Kementerian Agama dan mitra kerjanya. Dengan demikian, pelayanan publik akan semakin bersih, transparan, dan dipercaya masyarakat.

    Kegiatan hingga sore hari tersebut menunjukkan bahwa tugas penyuluh agama tidak berhenti di ruang kantor. Mereka hadir mendampingi masyarakat, menguatkan lembaga pendidikan keagamaan, serta menanamkan nilai-nilai integritas sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan pelayanan Kementerian Agama yang profesional dan berdampak bagi umat.

  • Upaya Pemberdayaan Umat di Kampung Qur’an Sukapura

    Upaya Pemberdayaan Umat di Kampung Qur’an Sukapura

    Kontributor : Rodinabillah / Editor : Muh. Hefni – Tim Bimas Islam

    Sukapura, (03/08/2026) – Komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat tata kelola program keagamaan kembali diwujudkan melalui Kampung Zakat. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui penyelenggara zakat dan wakaf bersama Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura turun langsung ke Desa Wonokerto untuk memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam rangka persiapan pengajuan Program Kampung Zakat yang akan dikolaborasikan dengan Program Kampung Qur’an binaan PPPA Daarul Qur’an.

    Program Kampung Qur’an di Desa Wonokerto telah berjalan sejak sekitar tahun 2016. Informasi tersebut disampaikan oleh salah seorang warga Desa Wonokerto yang juga merupakan aparatur sipil negara (ASN) di KUA Kecamatan Sukapura. Namun, seiring berjalannya waktu, komunikasi antara pengelola Kampung Qur’an dengan Pemerintah Desa Wonokerto tidak lagi berlangsung secara optimal.

    Kepala Desa Wonokerto mengungkapkan bahwa setelah tahun pertama pelaksanaan program, koordinasi dengan pemerintah desa tidak lagi dilakukan secara rutin. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat penguatan dan pengembangan program di tingkat desa apabila tidak segera dibangun kembali melalui komunikasi yang terbuka, intensif, dan berkesinambungan.

    Merespons kondisi tersebut, Kementerian Agama mengambil langkah cepat dengan pendekatan dialogis dan mediasi dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah potensi kesalah pahaman berkembang menjadi konflik yang dapat menghambat pelayanan serta pemberdayaan masyarakat.

    Melalui musyawarah yang berlangsung secara konstruktif, seluruh pihak akhirnya mencapai kesepahaman untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan intensitas komunikasi, serta melibatkan Pemerintah Desa Wonokerto dalam setiap tahapan pelaksanaan Program Kampung Qur’an ke depan. Kesepakatan tersebut sekaligus menjadi fondasi penting dalam proses pengajuan Desa Wonokerto sebagai Kampung Zakat.

    Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain,S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa implementasi EWS tidak hanya bertujuan mendeteksi potensi persoalan sejak dini, tetapi juga memastikan seluruh program pemberdayaan umat berjalan secara kolaboratif, akuntabel, dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

    Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., menyampaikan bahwa KUA tidak hanya berperan sebagai penyelenggara layanan keagamaan, tetapi juga menjadi simpul kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat. Menurutnya, semangat musyawarah, sinergi, dan komunikasi yang baik merupakan kunci keberhasilan setiap program pemberdayaan umat.

    Dengan terbangunnya komitmen bersama tersebut, Program Kampung Qur’an di Desa Wonokerto diharapkan semakin berkembang dan mampu bersinergi dengan Program Kampung Zakat sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai keagamaan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan. Program yang dijalankan Kementerian Agama melalui Penyelenggara Zakat dan KUA Kecamatan Sukapura ini menjadi bukti nyata bahwa pencegahan, dialog, dan kolaborasi merupakan fondasi penting dalam mewujudkan pelayanan keagamaan yang berdampak bagi masyarakat.

  • Menyisir Wakaf Tertunggak, Mengawal Kampung Zakat; KUA Sukapura Meneguhkan Semangat “SAHABAT”

    Menyisir Wakaf Tertunggak, Mengawal Kampung Zakat; KUA Sukapura Meneguhkan Semangat “SAHABAT”

    Kontributor : Rodina Billah / Editor Tim Redaksi

    SUKAPURA, (3 Agustus 2026) — Kalender baru saja berganti halaman. Bagi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura, hari pertama pekan sekaligus awal bulan menjadi pintu masuk untuk menata kembali pekerjaan yang belum selesai. Data wakaf yang tertunggak diperiksa. Pengajuan Kampung Zakat 2026 diklarifikasi. Dua agenda itu bertemu di satu meja.

    Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain hadir di KUA Sukapura untuk mengecek data wakaf yang masih memerlukan tindak lanjut. Pemeriksaan bukan sekadar mencocokkan berkas. Ada administrasi yang perlu dirapikan, data yang harus dipastikan kembali, dan pekerjaan yang mesti didorong agar tidak berlarut menjadi tunggakan.

    KUA Sukapura menyambut proses tersebut sebagai bagian dari penguatan tata kelola layanan keagamaan. Data wakaf yang tertib menjadi fondasi penting bagi kepastian administrasi dan perlindungan aset wakaf. Di lapangan, persoalan wakaf tidak berhenti pada ikrar, tetapi berlanjut pada pencatatan, kelengkapan dokumen, hingga proses sertifikasi.

    Dari wakaf, pembicaraan bergerak menuju Kampung Zakat 2026. Pengajuan program itu kembali diklarifikasi untuk memastikan data, kesiapan, serta tindak lanjutnya berjalan pada jalur yang sama. Kampung Zakat tidak berhenti pada nama program. Ia menuntut pengelolaan potensi zakat yang terarah, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan manfaat bagi penerima.

    Di titik ini, peran penylyelenggara zakat dan wakaf bersama KUA Sukapura saling bertaut. Penyelenggara Zakat dan Wakaf membawa perspektif tata kelola zakat dan wakaf. KUA Sukapura menjadi simpul layanan yang dekat dengan masyarakat. Keduanya bertemu pada kebutuhan yang sama: data yang akurat, program yang jelas, dan tindak lanjut yang terukur.

    Semangat itu menemukan relevansinya dalam inovasi SAHABAT Kemenag, akronim dari Solusi Hadir Bagi Umat. Filosofi ini menempatkan kehadiran Kementerian Agama bukan semata sebagai institusi administratif, tetapi sebagai lembaga yang hadir untuk mencari solusi atas persoalan umat. Menyisir data wakaf yang tertunggak dan mengklarifikasi tindak lanjut Kampung Zakat 2026 menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, responsif, dan memberi manfaat.

    Bagi KUA Sukapura, semangat SAHABAT bukan sekadar jargon. Ia diterjemahkan melalui kerja-kerja yang mungkin tampak sederhana, tetapi berdampak panjang: memastikan data wakaf tidak tertinggal, mengawal program zakat, dan membuka ruang koordinasi untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.

    Awal Agustus pun dimulai dengan cara yang sederhana, tetapi penting: memeriksa kembali apa yang belum tuntas dan memastikan apa yang telah direncanakan memiliki pijakan yang jelas. Dari data wakaf yang tertunggak hingga pengajuan Kampung Zakat 2026, Yazid Zain dan KUA Sukapura menunjukkan bahwa SAHABAT —Solusi Hadir Bagi Umat— dapat tumbuh dari meja kerja, lalu bergerak menuju pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.

  • KUA Tak Hanya Urus Pernikahan, Kampung Zakat Jadi Wujud Inovasi “SAHABAT”

    KUA Tak Hanya Urus Pernikahan, Kampung Zakat Jadi Wujud Inovasi “SAHABAT”

    Kontributor : Rodinabillah

    SUKAPURA, 29 Juli 2026— Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa keberadaan Kantor Urusan Agama (KUA) di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan urusan pernikahan. Lebih dari itu, KUA memiliki peran strategis dalam menghadirkan berbagai layanan keagamaan dan sosial kemasyarakatan sebagai wujud nyata kehadiran Kementerian Agama menjadi SAHABAT (Solusi Hadir Bagi Umat).

    Pesan tersebut disampaikan Kakankemenag saat menghadiri kegiatan Realisasi Bantuan Dompet Dhuafa Triwulan III sekaligus Pembinaan Guru Ngaji dan Dhuafa di KUA Kecamatan Sukapura, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kampung Zakat Kecamatan Sukapura yang dilaksanakan melalui sinergi Kemenag melalui KUA Sukapura dan Dompet Dhuafa.

    Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 37 orang dhuafa menerima bantuan masing-masing senilai Rp. 300.000,- sementara 9 orang guru ngaji menerima bantuan dalam bentuk sembako dengan nominal yang sama. Hadir pula perwakilan Dompet Dhuafa dari Jakarta Selatan, Kamaluddin, S.Sos.I, yang sekaligus melakukan monitoring pelaksanaan program Kampung Zakat.

    Bertindak sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala KUA Kecamatan Sukapura sekaligus Ketua Kampung Zakat Kecamatan Sukapura, Muhammad Arif Rahman Hakim, S.H., turut mengawal pelaksanaan kegiatan tersebut. Hadir pula Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, M. Imamuddin Nur Fajri, S.Ag., M.H.I., serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain, S.Ag., M.Pd.I.

    Dalam sambutannya, Muhammad Arif Rahman Hakim menyampaikan apresiasi kepada Dompet Dhuafa atas sinergi yang telah terjalin. Ia berharap Kampung Zakat tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

    Sementara itu, Kakankemenag Kabupaten Probolinggo mengajak masyarakat untuk tidak memandang kegiatan tersebut semata-mata sebagai pemberian bantuan.

    “Jangan hanya memandang kegiatan ini sebagai pemberian uang atau bantuan saja. Jadikanlah momen ini sebagai momentum silaturahmi antara Kementerian Agama, Dompet Dhuafa, dan masyarakat,” ungkapnya.

    Ia menegaskan bahwa Kemenag dan KUA tidak hanya hadir untuk urusan pernikahan. Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan keagamaan, seperti pemberantasan buta aksara, pendampingan TPQ melalui Penyuluh Agama, pengurusan zakat dan wakaf, pencegahan pernikahan anak, serta bimbingan dan penyuluhan keagamaan di majelis taklim.

    Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari kampanye inovasi Kementerian Agama, yakni SAHABAT (Solusi Hadir Bagi Umat). Melalui semangat tersebut, KUA diharapkan semakin dekat dengan masyarakat dan hadir memberikan solusi atas berbagai kebutuhan umat.

    Dalam sesi pembinaan, Kasi Bimas Islam Imamuddin Nur Fajri mengingatkan para orang tua agar senantiasa berhati-hati dalam mengawasi anak dan cucu dari pengaruh penggunaan gadget dan media sosial. Ia menekankan pentingnya pendampingan dan pengawasan keluarga agar perkembangan teknologi tidak memberikan dampak negatif terhadap perilaku dan kehidupan keagamaan generasi muda.

    Di penghujung acara, Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kemenag Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain, memimpin doa bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan harapan agar sinergi Kementerian Agama, KUA Sukapura, Dompet Dhuafa, dan masyarakat melalui program Kampung Zakat terus berkembang dalam menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi umat. (Rud)