Category: Uncategorized

  • Investasi Abadi, Wakaf Untuk Muhammadiyah Probolinggo

    Investasi Abadi, Wakaf Untuk Muhammadiyah Probolinggo

    Kontributor : Yazid Zain I Editor : Lutfi Hidayat

    KRAKSAAN, 03 Juli 2026 – Prosesi Ikrar Wakaf dan penandatanganan Akta Ikrar Wakaf tanah seluas 238 m² yang terletak di Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo berlangsung khidmat di Gedung PD. Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo, Jumat (03/07/2026). Tanah berstatus SHM tersebut diwakafkan oleh Emy Hariaty, S.Pd untuk keperluan Persyarikatan Muhammadiyah, menandai pengelolaan aset wakaf yang lebih profesional dan terjamin secara hukum.

    Kegiatan yang dipandu langsung PPAIW Kemenag Kabupaten Probolinggo, Yazid Zain, S.Ag., M.Pd.I ini diawali pelantikan dan sumpah Nazhir Badan Hukum, dilanjutkan Ikrar Wakaf, penandatanganan akta, pembinaan nazhir, penyerahan akta, serta doa dan foto bersama. Hadir dalam acara tersebut Plt. Kepala KUA Kraksaan, Muchlison, wakif dan para nazhir : Sigit Prasetyo (Ketua), Dwi Rohmadiyanto (Sekretaris), Syamsuhadi (Bendahara), beberapa Penyuluh Agama Islam KUA Kraksaan, jajaran pengurus Persyarikatan, para saksi (Akhmad Rosidi dan M. Isfak Yulianto) dan pemangku kepentingan lainnya.

    Yazid Zain menyebutkan pentingnya Nazhir Badan Hukum bagi kepastian dan perlindungan hukum aset wakaf, terutama bagi Perserikatan Muhammadiyah yang memiliki amal usaha luas. “Nazhir Badan Hukum memberikan kepastian hukum dan mampu bertahan melintasi pergantian kepengurusan. Wakaf adalah investasi cerdas untuk mengabadikan harta, sekalipun pemiliknya sudah tiada,” tegasnya, mengingatkan para nazhir untuk mengelola amanah dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme.

    Emy Hariaty, S.Pd selaku wakif menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada Kemenag Kabupaten Probolinggo, PPAIW, serta jajaran KUA Kraksaan yang telah memfasilitasi proses ini. “Semoga amal ini diterima Allah dan menjadi investasi akhirat yang tak pernah putus,” ujarnya dengan haru. 

    Sigit Prasetyo selaku Ketua Nazhir menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk mengelola dan mengembangkan aset wakaf secara produktif, transparan, dan akuntabel demi kemajuan Muhammadiyah, serta terbuka terhadap pengawasan demi perbaikan pengelolaan ke depan.

    Dengan terlaksananya ikrar wakaf dan pelantikan Nazhir Badan Hukum ini, Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo kini memiliki landasan hukum kokoh untuk mengelola aset wakaf secara mandiri dan profesional. Pengelolaan terstruktur ini sejalan dengan semangat mengembangkan wakaf produktif di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan dakwah, menjawab tuntutan tata kelola aset umat yang baik.

    Ke depan, pengelolaan tanah wakaf ini diharapkan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Persyarikatan dan menjadi inspirasi masyarakat untuk berwakaf sebagai investasi abadi. Kesuksesan ini juga menjadi momentum mengedukasi umat akan potensi besar wakaf dalam membangun kesejahteraan bersama, sebagaimana pesan yang terus bergema: bahwa harta paling abadi adalah yang diwakafkan, karena kebaikannya terus mengalir selamanya.

  • IPARI Probolinggo Tebar Ribuan Benih Ikan, Gaungkan Ekoteologi Merawat Indonesia di Momen Harlah IPARI ke-3

    IPARI Probolinggo Tebar Ribuan Benih Ikan, Gaungkan Ekoteologi Merawat Indonesia di Momen Harlah IPARI ke-3

    Kontributor : Ansori. MP I Editor : Saiful Bahri

    LECES, 03 Juni 2026 – Ribuan benih ikan ditebar oleh para Penyuluh Agama Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) di kawasan wisata Rawa Tirta Desa Sumber Kedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Rabu pagi (03/06/2026).

    Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memeriahkan harlah IPARI ke-3. Sebelum tebar benih ikan para Penyuluh Agama bersama sejumlah elemen masyarakat dan Ormas kepemudaan melakukan bersih-bersih kawasan tersebut. Penebaran benih ikan sebagai implementasi dari spirit “Ekoteologi Merawat Indonesia” yang menjadi salah satu  tema nasional harlah IPARI ke-3 tahun 2026.

    Mengusung tema “IPARI Merawat Indonesia: Gerakan Spiritual, Literasi, dan Ekoteologi”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menegaskan peran penyuluh agama sebagai agen perubahan sosial yang mampu menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan aksi nyata untuk kemaslahatan masyarakat dan lingkungan.

    Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd.I didampingi Kasi Bimas Islam H. Muhammad Imamuddin Nur Fajri, M.H.I, Kasi PD Pontren H. Ansori, M.Pd.I, Penyelenggara Zakat dan Wakaf Yazid Zain M.H.I, jajaran Forkopimka Leces, perwakilan KUA, serta unsur Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo.

    Mewakili Ketua IPARI Kabupaten Probolinggo, Muhammad Nasir menyampaikan bahwa Harlah ke-3 IPARI menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi penyuluh agama dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat melalui pendekatan yang lebih inklusif dan berdampak.

    Kasi Bimas Islam, Muhammad Imamuddin Nur Fajri membuka sambutannya dengan yel-yel penuh semangat, “IPARI Bergerak, IPARI Berdampak, IPARI Sae… Sae… Sae!” yang langsung disambut antusias para peserta. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa Desa Sumber Kedawung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan pemberdayaan masyarakat berbasis zakat dan lingkungan.

    “Desa Sumber Kedawung siap kita jadikan Kampung Zakat. Potensi yang dimiliki desa ini sangat besar untuk dikembangkan melalui sinergi lintas sektor. Penyuluh agama harus hadir sebagai penggerak yang mampu membangun kesadaran spiritual sekaligus pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo terus memperkuat program pemberdayaan umat, termasuk pengembangan Kampung Zakat, penguatan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM di wilayah Leces dan Tongas, serta optimalisasi peran penyuluh agama di tengah masyarakat.

    Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur menilai kegiatan yang memadukan aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan implementasi nyata program ekoteologi yang saat ini menjadi salah satu prioritas Kementerian Agama.

    Menurutnya, penyuluh agama tidak hanya bertugas menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga harus mampu menggerakkan masyarakat untuk menjaga alam sebagai amanah Tuhan. “Ekoteologi bukan sekadar konsep. Hari ini kita melihat bagaimana nilai-nilai agama diwujudkan dalam aksi nyata menjaga lingkungan, memberdayakan masyarakat, dan membangun kesadaran kolektif untuk merawat ciptaan Allah,” tegasnya.

    Ia mengajak seluruh penyuluh agama menjadikan Harlah IPARI sebagai ruang refleksi terhadap pengabdian yang telah dilakukan kepada umat. “Selamat Harlah ke-3 IPARI. Mari kita melihat kembali apa yang telah kita lakukan dan apa yang masih harus kita perjuangkan untuk masyarakat. Penyuluh agama harus semakin hadir, semakin relevan, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh umat,” pungkasnya.

    Penebaran benih ikan di kawasan wisata air Rawa Tirta Sumber Kedawung, merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Agama, IPARI, dan Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo sebagai upaya mendorong ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

    Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Wahab menyatakan pihaknya siap memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama dan para penyuluh agama untuk mengembangkan budidaya perikanan berbasis masyarakat.

    “Budidaya ikan merupakan sektor yang memiliki prospek besar. Dengan sistem keramba tancap dan pendampingan yang baik, masyarakat dapat memperoleh tambahan penghasilan. Saat ini sudah ada empat kelompok yang mendapatkan fasilitasi dan kami siap memperluas manfaatnya,” ujarnya.

    Dari implementasi ekoteologi ini, menunjukkan bahwa dakwah masa kini tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui aksi nyata menjaga lingkungan, memperkuat literasi, dan meningkatkan kesejahteraan umat.

    Di tengah tantangan perubahan sosial dan lingkungan, langkah IPARI ini menjadi pesan kuat bahwa merawat alam sejatinya adalah bagian dari merawat masa depan bangsa. Dengan semangat “IPARI Merawat Indonesia”, para penyuluh agama membuktikan bahwa dakwah dapat bergerak lebih luas, berdampak lebih nyata, dan menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.

  • Tengger Jadi Lokasi Puncak HAB ke-80 Kemenag di Probolinggo

    Tengger Jadi Lokasi Puncak HAB ke-80 Kemenag di Probolinggo

    Kontributor : Lutfi Hidayat I Editor : M. Hefni

    SUKAPURA, 03 Januari 2026 – Puncak Perayaan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI di Kabupaten Probolinggo digelar di Gerbang Wisata Sukapura (GWS) Pegunungan Tengger, Kecamatan Sukapura, Sabtu (03/01/2026). 

    Ratusan ASN Kemenag Kabupaten Probolinggo memadati GWS mengikuti upacara bendera dengan inspektur upacara Bupati Probolinggo, Haris Damanhuri. Bupati yang akrab disapa Gus Haris ini menyampaikan peran penting Kementerian Agama sejak awal pendiriannya yang telah mampu menaungi beragam agama dan kepercayaan di Indonesia dalam sebuah harmony dan kerukunan.

    “Jangan sampai ada ASN Kemenag tidak mengetahui Hari Amal Bhakti ini. Ada ribuan pulau, suku dan tradisinya serta agama-agama di Indonesia. Selama ini Kemenag mampu menjaga keragaman dan kebersamaan,” ungkapnya.

    Satu hal yang tak kalah penting, sambung Gus Haris adalah semakin maraknya propaganda di media sosial yang menggunakan kecanggihan teknologi AI (artificial intelligence) untuk merusak kerukunan, persatuan dan kesatuan NKRI.

    “Apakah kita sama-sama menyadari bahwa akhir-akhir ini semakin banyak upaya adu domba di media sosial dengan penggunaan AI. Bencana Aceh dan beberapa daerah lain misalnya, ada oknum yang berusaha melakukan propaganda di tengah bencana tersebut. ASN Kemenag harus upgrade skill agar tidak tertinggal, jangan sampai tenaga profesional kita tergantikan oleh AI,” tambahnya.

    Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd menyebut upacara bendera Hari Amal Bhakti Kemenag di daerah pegunungan Tengger pertama kali digelar. Hal itu, karena kawasan Tengger memiliki masyarakat yang beragam dalam kepercayaan keagamaan. Ada masyarakat Muslim, Hindu juga Kristen, oleh karena itupantas disebut sebagai Gerbang Moderasi Beragama.

    “Masyarakat Tengger ini menjadi model bagaimana Moderasi Beragama yang digaungkan Kemenag RI bisa berjalan dengan harapan. Masyarakat Tengger dengan latar belakang agama berbeda-beda, dapat hidup rukun, damai, bersinergi satu dengan yang lain. Masyarakat di sini dapat saling menjaga umat beragama lainnya,” ungkapnya.

  • Pencegahan Perkawinan Anak Perlu Komitmen Bersama, Agar Tak Hanya Sekedar Seremonial

    Pencegahan Perkawinan Anak Perlu Komitmen Bersama, Agar Tak Hanya Sekedar Seremonial

    Kontributor : Lutfi Hidayat I Editor : M Hefni

    PAJARAKAN, 03 November 2025 – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo menegaskan pentingnya sinergi lintas lembaga dalam memperkuat sistem pencegahan perkawinan anak di tingkat daerah. Hal ini disampaikan dalam Workshop Pencegahan Perkawinan Anak bertema “Keluarga Hebat Anak Selamat” yang berlangsung di Auditorium MAN 2 Probolinggo Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Senin siang (03/11/2025). 

    Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd menekankan bahwa langkah pencegahan perkawinan anak tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi semata. Diperlukan Memorandum of Understanding (MoU) antar-lembaga agar program pencegahan dapat berjalan lebih sistematis, terukur dan memiliki dasar hukum yang kuat di tingkat pelaksana.

    “Perlu ada MoU antar lembaga. Supaya komitmen pencegahan perkawinan anak tidak hanya seremonial, tetapi mengikat dan bisa dieksekusi sampai level akar rumput,” tegasnya.

    Ia juga menyebut bahwa Kementerian Agama siap menjadi motor penggerak koordinasi antar pihak, terutama dalam pembinaan keluarga, penguatan layanan keagamaan, serta pendampingan bagi masyarakat yang rentan melakukan perkawinan usia dini.

    Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ahmad Fawaid dari Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) dan Wawan Ali Suhudi, Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Provinsi Jawa Timur. Keduanya membedah aspek akademik, sosial, hingga regulasi dari fenomena perkawinan anak, sekaligus menawarkan solusi kolaboratif berbasis pendekatan keluarga dan komunitas.

    Wakil Bupati Probolinggo, Lora H. Fahmi AHZ yang hadir dan membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Probolinggo siap mendukung langkah-langkah konkret dalam menekan angka perkawinan anak.

    “Atas nama Pemerintah Kabupaten Probolinggo, kami siap menindaklanjuti seluruh rekomendasi workshop ini, termasuk menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan pranikah secara gratis melalui Dinas Kesehatan,” tegasnya.

    Dukungan juga datang dari BAZNAS Kabupaten Probolinggo yang menyatakan komitmen untuk bersinergi dengan Kemenag, Pemda dan organisasi perempuan seperti Fatayat NU, Muslimat NU serta Aisyiyah. Sinergi ini diharapkan memperluas jangkauan edukasi keluarga dan penguatan kesadaran masyarakat agar menunda usia perkawinan hingga siap secara fisik, mental dan ekonomi.

    Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh dan lembaga strategis, antara lain Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Ahmad Zubaidi, Ketua Komisi IV DPRD Ning Ayu Novitasari, Sekretaris Komisi IV DPRD Hj. Umil Setyowati, Kabid DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo H. Hariawan, Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo Prof. Dr. Aziz Wahab, M.Ag, Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Probolinggo H. Zainal Arifin, Ketua IPARI Kabupaten Probolinggo Suharto, para Kepala KUA se-Kabupaten Probolinggo, Penyuluh Agama Islam dari 24 Kecamatan, perwakilan dinas dan instansi vertikal, serta pengurus Fatayat NU, Muslimat NU, Aisyiyah, dan Dharma Wanita Persatuan Kemenag Kabupaten Probolinggo.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir komitmen bersama antar-lembaga untuk menyusun MoU terpadu yang memperkuat sistem pencegahan perkawinan anak berbasis edukasi, regulasi, dan pendampingan masyarakat. Upaya tersebut menjadi langkah strategis dalam mewujudkan Probolinggo sebagai daerah ramah anak, berdaya saing, dan berkomitmen terhadap pembangunan keluarga yang berkualitas.

  • Revitalisasi BKM, Bupati Probolinggo Sebut Masjid Jantung Peradaban Umat

    Revitalisasi BKM, Bupati Probolinggo Sebut Masjid Jantung Peradaban Umat

    Kontributor : M. Hefni I Editor : Lutfi Hidayat

    KRAKSAAN, 29 September 2025 – Penghulu se- Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) menggelar Workshop Revitalisasi BKM dengan tema “Mendesain Masjid Berdaya dan Berdampak untuk Ummat”, di Auditorium PLHUT Kraksaan, Senin (29/09/2025).

    Hadir dalam acara ini Bupati Probolinggo, Ketua DPRD, pejabat ATR/BPN, Dewan Masjid Indonesia (DMI), PCNU Kota Kraksaan, Ketua BKM se-Kabupaten Probolinggo, Takmir Masjid, BAZNAS, MUI, Kasubbag TU, para Kepala Seksi dan Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kemenag Kabupaten Probolinggo.

    Kepala Kankemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, S.Ag., M.Pd.I, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir, khususnya kepada Bupati Probolinggo.

    “Masjid merupakan salah satu mitra strategis Kementerian Agama bersama ormas keagamaan. Maka mari kita jaga masjid agar semakin bagus dan nyaman, terutama dalam hal ri’ayah atau pemeliharaan. Kemenag memiliki BKM yang terstruktur dari tingkat kabupaten hingga kecamatan, di dalamnya terdapat majelis taklim, TPQ, hingga Madrasah Diniyah. Semoga keberadaan BKM di setiap kecamatan mampu memberi dampak nyata dan memberdayakan umat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Bupati Probolinggo, dr. Haris Damanhuri Romli (Gus Haris), dalam arahannya menekankan pentingnya menjadikan masjid sebagai jantung peradaban umat. “Masjid tidak hanya pusat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat pendidikan, ramah anak, sekaligus pusat pemberdayaan sosial. Masjid berdaya berarti memiliki kemandirian, terutama dalam membangun SDM yang mampu mensejahterakan pemakmur masjid. Masjid berdampak berarti menghadirkan ketenangan, menghidupkan kegiatan keagamaan, dan program-program yang membawa manfaat,” terangnya.

    Pada kesempatan tersebut, Bupati Probolinggo juga menyerahkan sertifikat tanah wakaf kepada 12 nadzir serta sertifikat tanah untuk KUA Tongas dan KUA Dringu yang diserahkan langsung oleh ATR/BPN. Selain itu, dilakukan pula pelepasan peserta Lomba Qiroatul Kutub Tingkat Nasional oleh Kepala Kankemenag Kabupaten Probolinggo.

    Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pertama oleh KH. Mundzir (LTMNU Pasuruan) yang memaparkan pentingnya masjid berdaya dan berdampak sebagai masjid percontohan di Indonesia. Ia menekankan bahwa kendala umat, terutama di bidang ekonomi dan pemberdayaan usaha, harus dijawab dengan menjadikan masjid sebagai pusat solusi. 

    Materi kedua disampaikan oleh KH. Barzan Ahmadi, Ketua PD. DMI Kabupaten Probolinggo sekaligus Kasi PHU Kemenag kabupaten Probolinggo. Ia menekankan semangat imarah (memakmurkan) dan riayah (merawat/mengelola) menuju masjid yang berdaya dan berdampak. Semangat Imarah dan Riayah menurutnya menghidupkan masjid dengan program yang berdaya dan berdampak dan menjaga masjid dengan tata kelola profesional, berintegritas, dan penuh tanggung jawab.

    Sementara Kasi Bimas Islam, H. Imamuddin Nur Fajri, menegaskan bahwa melalui program ini Kemenag berharap masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan umat. “Masjid harus berdaya, artinya memiliki kapasitas untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Lebih jauh, masjid juga harus berdampak, menjadi pusat kegiatan sosial dan ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” bebernya.